13 October 2020, 18:34 WIB

BPPT Lakukan Modifikasi Cuaca untuk Antisipasi Banjir dan Longsor


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

BADAN Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengumumkan akan terjadi iklim anomali La Nina di Indonesia. Fenomena ini bisa menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan hingga 40 persen di atas normal, sehingga dapat menimbulkan berbagai bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menerapkan teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk mencegah terjadinya hujan dengan intensitas besar yang dapat menimbulkan banjir dan tanah longsor. Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT Jon Arifian mengatakan, modifikasi cuaca yang dilakukan oleh BPPT selama ini yaitu dengan metode distribusi hujan melalui intervensi proses alami pertumbuhan awan menggunakan bahan semai.

Awan-awan yang akan masuk ke daerah yang rawan banjir dipantau melalui radar/data parameter angin untuk mengetahui bagaimana pertumbuhannya dan ke mana awan itu akan bergerak.

“Misalnya kalau kita melihat ada ancaman akan mengarah ke Jakarta dan kalau dibiarkan dia akan membesar dan turun di Jakarta, maka kita antiipasi dengan diprematurkan. Artinya kita percepat proses tumpukan dan penggabungan yang secara alami berlangsung di awan. Kita intervensi dengan menambahkan bahan semai ke awan,” jelas Jon kepada Media Indoensia, Selasa (13/10).

Baca juga : UGM: Waspada Curah Hujan Tinggi Akibat La Nina

Jon menjelaskan, setelah dilakukan intervensi pada pertumbuhan awan, hujan akan turun lebih awal dan dengan intensitas yang lebih rendah, sehingga meminimalisir potensi banjir di wilayah rentan. Jon menambahkan, selain dengan teknik modifikasi cuaca, bencana banjir dan tanah longsor juga dapat dihindari melalui pengelolaan dan penataan wilayah sungai dan daerah hulu secara baik.

“Misalnya di Kementerian PUPR, dengan kompetensi terkait dengan pengelolaan wilayah sungai dan penataan di daerah hulu. Keberhasilan pelaksanaan tugas tersebut sedikit akan berkontribusi pada upaya bersama dalam mitigasi bencana hidtrometeorologi tadi,” tuturnya.

“Tentunya ini bukan hanya pekerjaan satu instansi saja. Ini tugas multi intansi, multi kementerian, lembaga dan pemda. Partisipasi masyarakat juga dibutuhkan untuk mengantisipasi hal ini,” tandasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT