13 October 2020, 16:46 WIB

Stabilitas di Sektor Keuangan Masih Rawan, Ini Sebabnya


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

DALAM laporan Daily Economics and Market Review Bank Mandiri disebutkan stabilitas disektor keuangan masih rawan. Hal ini seiring kredit konsumsi perbankan terus melambat diiringi peningkatan NPL (non performing loan) atau dimaksud kredit dengan kualitas kurang lancar.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kredit konsumsi per Juli 2020 hanya tumbuh sebesar 1,4% (yoy), terendah sejak krisis 1998. Sementara itu, NPL naik ke level 2,3%, tertinggi sepanjang 2020.

Baca juga: Stimulus Fiskal dan Perbaikan Ekspor Pulihkan Ekonomi Domestik

"Berdasarkan jenis kredit konsumsi yang disalurkan kepada rumah tangga, kredit pemilikan kendaraan bermotor (KKB) mengalami penurunan paling dalam," sebut laporan tersebut, Selasa (13/10).

KKB disebutkan, telah mengalami kontraksi sejak April 2020 sebesar 1,9% yoy, dan per Juli terkontraksi 11,9% (yoy) dengan NPL mencapai 2,9%, tertinggi sepanjang 2020.

Sementara itu, kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit peralatan rumah tangga lainnya masih tumbuh positif meskipun mengalami perlambatan, masing-masing hanya tumbuh 3,4% dan 4,5% secara tahunan.

NPL di KPR tercatat 3,2% lebih tinggi dibanding NPL KKB (2,9%) dan kategori peralatan rumah tangga lainnya dengan 1,5%, tertinggi sepanjang 2020.

Lebih lanjut, dalam laporan itu juga menyebutkan rasio TWP90 (Tingkat Wanprestasi) sebagai indikator pinjaman bermasalah fintech peer to peer lending (P2PL) terus meningkat. Berdasarkan data OJK, nilai TWP90 per Maret 2020 sebesar 4,2%, namun melonjak lebih dari dua kali lipatnya di bulan Agustus menjadi 8,9%.

Yang perlu digarisbawahi, rasio TWP90 masih terus meningkat di tengah nilai penyaluran pinjaman terus meningkat. Per Agustus,nilai penyaluran pinjaman di Jawa tumbuh 4,2% secara bulanan (vs 3,1% di Juli), demikian juga di luar Jawa yang tumbuh 4,1% (vs 3,3% di Juli).

Selain itu, disebutkan juga tingkat konsumsi dan keyakinan konsumen masih belum pulih. Berdasarkan data Bank Indonesia, pertumbuhan transaksi kartu debit terus mengalami kontraksi sejak Maret 2020. Per Agustus, volume transaksi turun 0,6% secara tahunan, demikian juga dengan nilai transaksi yang turun 6,4%.

Transaksi kartu kredit juga mengalami kontraksi sejak Maret 2020 dengan tingkat kontraksi yang lebih dalam. Per Agustus, volume transaksi turun 21,0% secara tahunan, sementara nilai transaksi turun 35,4%.

"Hal-hal ini mengindikasikan tingkat daya beli masyarakat yang masih lemah, dan di sisi lain juga merefleksikan tingkat keyakinan masyarakat yang masih pesimis terhadap kondisi ekonomi meskipun tren keyakinan konsumen terus membaik," ungkap Daily Economics and Market Review Bank Mandiri itu. (OL-6)

BERITA TERKAIT