13 October 2020, 13:49 WIB

UGM: Waspada Curah Hujan Tinggi Akibat La Nina


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

BADAN Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengumumkan bahwa akan terjadi iklim anomali La Nina di Indonesia. Berdasarkan sejarah La Nina di Indonesia, fenomena ini bisa menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan hingga 40 persen di atas normal.

Sekretaris Pusat Studi Bencana Universitas Gadjah Mada (UGM), Andung Bayu, mengatakan La Nina dan El Nino merupakan satu gejala perubahan atmosfer yang umumnya memengaruhi kondisi cuaca secara musiman di Indonesia dan negara-negara lain di sekitar Samudra Pasifik. La Nina adalah peristiwa turunnya suhu air laut di Samudera Pasifik di bawah suhu rata-rata sekitarnya, sedangkan El Nino adalah kejadian di mana suhu air laut yang ada di Samudra Pasifik memanas di atas rata-rata suhu normal.

Baca juga: Seremoni Penutupan ARTJOG: Resilience Digelar Sederhana 

“El-Nino dan La-Nina memiliki rentang waktu pengulangan setiap 2-7 tahun. Berdasarkan acuan sejarah, El Nino ditemukan terlebih dahulu dibanding La-Nina," kata Andung dalam pernyataan tertulis, Selasa (13/10).

Andung menjelaskan, La-Nina menyebabkan tekanan udara pada ekuator Pasifik barat menurun yang mendorong pembentukkan awan berlebihan dan menyebabkan curah hujan lebih tinggi dibandingkan kondisi normal. Korelasi antara curah-hujan dan Southern Oscillation Index tertinggi ini terjadi pada bulan September-November. Artinya, curah hujan pada bulan-bulan tersebut akan lebih tinggi daripada kondisi normal.

“Sementara Bulan Desember-Februari yang merupakan puncak musim penghujan, curah hujan akan tetap tinggi meskipun korelasinya dengan Southern Oscillation Index lebih rendah. Sektor pertanian merupakan yang terdampak langung secara positif oleh La-Nina. Produksi pertanian yang membutuhkan kebutuhan air yang tinggi biasanya akan bagus pada kondisi La-Nina. Hal ini berkebalikan dengan El-Nino dimana terjadi kekeringan berkepanjangan dan terjadi penurunan produksi pangan," ujarnya.

Lebih jauh Andung menuturkan, tingginya curah hujan ini menimbulkan bencana banjir dan longsor. Banjir terjadi akibat simpanan permukaan (surface storage) tidak mampu menampung air hujan yang lebih tinggi daripada biasanya.

Sementara longsor terutama disebabkan oleh peningkatan beban tanah yang semakin berat akibat terisi oleh air hujan yang meresap ke dalam tanah. Oleh karena itu, hal-hal yang harus dipersiapkan adalah antisipasi kejadian banjir dan longsor.

“Jika hujan deras terus-menerus terjadi pada daerah rawan banjir masyarakat harus waspada. Demikian juga jika muncul retakan-retakan di tebing yang merupakan tanda-tanda akan longsor," paparnya.

Andung menegaskan, pemerintah daerah, terutama melalui BPBD, harus siap siaga dalam menangani bencana banjir dan longsor. Hal ini dapat dilakukan dengan monitoring curah hujan dan debit sungai, serta penyiapan sarana Early Warning System (EWS).

Menurutnya, pandemi Covid-19 menjadi suatu tantangan sendiri, terutama jika bencana terjadi dalam skala besar sehingga masyarakat harus mengungsi. Barak pengungsian pada umumnya memiliki fasilitas seadanya dan sangat padat sehingga berpotensi tinggi terhadap penularan covid-19.

“Saat ini kita tidak tahu apakah berdampak positif atau negatif, ataupun malah tidak berdampak sama sekali kita juga tidak tahu," urainya.

Baca juga: Pemerintah Dorong Penguatan BMKG

Andung menyebut, anomali iklim ekstrem La-Nina pada umumnya berlangsung hingga selesai musim penghujan. Untuk La-Nina mendatang, diprediksi terjadi pada Desember 2020 hingga Februari 2021 dengan probabilitas sudah mulai berkurang, artinya kemungkinan curah hujan pada bulan-bulan tersebut mendekati curah hujan pada kondisi normal.

“Anomali cuaca ekstrem La nina semacam ini bisa menguntungkan juga merugikan. Menguntungkan karena sumber daya air kita melimpah dan potensi kekeringan rendah. Bisa juga merugikan sebab meningkatkan potensi banjir dan longsor," pungkasnya. (OL-6)

BERITA TERKAIT