13 October 2020, 10:29 WIB

Taiwan Sebut Tuduhan Mata-mata Baru oleh Tiongkok Berita Palsu


Faustinus Nua | Internasional

TAIWAN melabeli tuduhan mata-mata baru oleh Beijing sebagai berita palsu setelah televisi pemerintah Tiongkok menyiarkan program yang menunjukkan seorang akademisi Taiwan ditangkap di Tiongkok dengan alasan keamanan nasional pada saat ketegangan Taipei-Beijing meningkat.

Beijing mengklaim Taiwan yang demokratis sebagai wilayahnya dan, dalam beberapa pekan terakhir, meningkatkan aktivitas militer di dekat pulau itu, termasuk menerbangkan jet tempur di atas garis tengah Selat Taiwan yang sensitif.

Senin (12/10) larut malam, malam kedua berturut-turut, televisi pemerintah Tiongkok menayangkan seorang warga Taiwan yang mengaku sebagai mata-mata. Tersangka itu merupakan akademisi bernama Cheng Yu-chin yang sebelumnya mengajar di Rep Ceko.

Baca juga: Palsukan 123 Juta Pesanan, Kafe di Tiongkok Didenda Rp4,3 M

Laporan itu mengatakan Cheng sebelumnya bekerja sebagai asisten Cho Jung-tai, yang pernah menjadi ketua Partai Progresif Demokratik (DPP) Taiwan yang berkuasa. Kemudian, menunjukkan Cheng di depan kamera mengakui bahwa dia tahu tindakannya berbahaya bagi Tiongkok.

Cheng ditangkap di Tiongkok, April tahun lalu, tambah laporan itu. Namun, baik Cho maupun DPP, mengatakan Cheng tidak pernah bekerja untuknya. Cho, dalam sebuah pernyataan di halaman Facebook-nya, mengatakan dia bahkan tidak mengenal Cheng.

"Berita ini jelas merupakan pemberitaan bohong," tambah Cho.

Dewan Urusan Daratan Taiwan mengatakan, dalam pernyataan terpisah, bahwa baik mereka maupun Straits Exchange Foundation, badan semiresmi yang menangani beberapa hubungan dengan Tiongkok, belum didekati anggota keluarga mana pun untuk meminta bantuan.

Dewan itu mengutuk Beijing karena menempatkan Cheng di televisi untuk membuat pengakuan. Mereka mengatakan Tiongkok bermain politik dengan mencoba menjebak orang karena memata-matai.

"Tidak mungkin menghubungi Cheng untuk dimintai komentar atau menentukan apakah dia telah diizinkan untuk melibatkan perwakilan hukum," tulis dewan tersebut.

Kelompok hak asasi manusia dan pemerintah Barat telah mengecam Tiobgkok atas kejadian sebelumnya, lantaran tersangka telah dipublikasikan di televisi pemerintah untuk mengaku sebelum persidangan.

Minggu (11/10) malam, televisi pemerintah Tiongkok menayangkan pengakuan lain.

Beijing menuduh tersangka yang diduga adalah mata-mata Taiwan yang pergi ke Hong Kong untuk mendukung pengunjuk rasa antipemerintah dan diam-diam merekam pasukan keamanan Tiongkok di seberang perbatasan. (CNA/OL-1)

BERITA TERKAIT