13 October 2020, 05:45 WIB

UE Prihatin atas Pelanggaran Gencatan Senjata di Nagorno-Karabakh


(AFP/Nur/I-1) | Internasional

KEPALA diplomatik Uni Eropa (UE), pada Minggu (11/10), menyatakan keprihatinannya yang mendalam atas laporan pelanggaran gencatan senjata antara Armenia dan Azerbaijan di wilayah Nagorno-Karabakh yang disengketakan.

"Kami mencatat dengan sangat prihatin laporan kegiatan militer yang terus berlanjut, termasuk terhadap sasaran sipil, serta korban sipil," kata Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell dalam sebuah pernyataan.

27 negara anggota UE, tambah Borrell, mendesak kedua pihak untuk memastikan penghormatan penuh atas kesepakatan di lapangan. Ia pun mendorong kedua pihak untuk terlibat dalam negosiasi substantif tanpa penundaan di bawah naungan yang disebut Minsk Group.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah gencatan senjata pada Sabtu digagalkan dengan cepat oleh lebih banyak pertempuran. Kedua belah pihak menuduh pihak lain bertanggung jawab.

Borrell menyambut baik gencatan senjata itu dan meminta semua pihak untuk secara ketat mematuhinya.

Bulan lalu, Uni Eropa memperingatkan kekuatan regional untuk tidak ikut campur di tengah kekhawatiran perang besar-besaran yang melibatkan Turki, yang sangat mendukung Azerbaijan, dan Rusia, yang memiliki perjanjian militer dengan Armenia.

Azerbaijan mendapat dukungan moril dari pemerintah Turki. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berulang kali menegaskan, Turki akan selalu berdiri bersama rakyat Azerbaijan. Turki disebut memiliki ikatan kultur dan kebangsaan dengan Azerbaijan. Bahkan, hubungan keduanya sering disematkan sebagai 'dua negara, satu bangsa'.

Selain itu, Turki merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Azerbaijan pada 1991 setelah jatuhnya Uni Soviet.

Kendati demikian, hubungan erat dengan Turki tak membuat Baku menjauh dari Israel. Selama pertempuran, Azerbaijan memanfaatkan pasokan senjata dari Israel yang sudah dibeli selama ini. Hal itu memicu protes dari Armenia yang merasa dirugikan dengan pengiriman-pengiriman senjata tersebut. (AFP/Nur/I-1)

BERITA TERKAIT