13 October 2020, 05:05 WIB

Produsen Obat Korsel Dapat Persetujuan Uji Coba Fase 3


(Van/CNA/I-1) | Internasional

PRODUSEN obat Korea Selatan Celltrion mengatakan pada Senin (12/10) pihaknya telah menerima persetujuan regulasi untuk uji klinis Fase 3 dari pengobatan eksperimental covid-19. Persetujuan tersebut datang saat perusahaan berencana untuk mencari persetujuan bersyarat untuk obat antibodi, CT-P59, untuk penggunaan darurat pada akhir tahun ini.

Obat antibodi merupakan yang paling canggih dalam hal penelitian di Korea Selatan. Antibodi itu ditujukan untuk melawan permukaan virus dan dirancang untuk memblokirnya agar tidak mengunci sel manusia.

Celltrion mulai memproduksi obat secara komersial pada bulan September. Kemungkinan berjumlah sekitar 1 juta dosis untuk mengantisipasi permintaan di pasar domestik dan luar negeri. Pada bulan Juli, Celltrion secara terpisah meluncurkan uji coba pengobatan pada manusia di luar negeri di Inggris.

Uji coba tahap ketiga akan dilakukan pada sekitar 1.000 pasien virus korona asimtomatik dan mereka yang telah melakukan kontak dekat dengan pasien covid-19 di Korea, demikian kata Celltrion dalam sebuah pernyataan.

"Kementerian Keamanan Makanan dan Obat baru-baru ini menyetujui studi Fase 2/3 pada pasien dengan kasus covid-19 ringan dan sedang," kata Lee Sang-joon, Wakil Presiden Eksekutif Senior Celltrion, kepada Reuters.

Sementara itu, para ilmuwan di Hong Kong mengumumkan pada Senin (12/10) bahwa obat antimikroba yang digunakan untuk mengobati sakit maag dan infeksi bakteri telah menjanjikan dalam memerangi virus korona pada hewan.

Para peneliti pun mulai mengeksplorasi apakah metalodrug, senyawa yang mengandung logam yang lebih umum digunakan melawan bakteri mungkin juga memiliki sifat antivirus yang dapat melawan virus korona SARS-CoV-2. Menggunakan hamster Suriah sebagai subjek tes, mereka menemukan bahwa salah satu obat, ranitidine bismuth citrate (RBC), adalah 'agen anti-SARS-CoV-2 yang manjur'.

"RBC mampu menurunkan viral load di paru-paru hamster yang terinfeksi hingga 10 kali lipat," kata peneliti Universitas Hong Kong Runming Wang kepada wartawan, saat tim mempresentasikan penelitian mereka.(Van/CNA/I-1)

BERITA TERKAIT