13 October 2020, 03:55 WIB

Sekolah Minta Kejelasan Asesmen Nasional


Syarief Oebaidillah | Humaniora

PIHAK sekolah meminta kejelasan soal kebijakan asesmen nasional yang akan menggantikan ujian nasional dan ujian sekolah berstandar nasional (USBN) pada 2021 mendatang. Mereka mendukung kebijakan itu, tapi mempertanyakan detailnya.

"Kami masih menunggu arahan Kemendikbud lebih lanjut karena masih belum gamblang atau komprehensif (kebijakan) turunan dari asesmen nasional ini," ungkap Kepala SMA Cahaya Rancamaya Islamic Boarding School, Bogor, Ari Rosandi kepada Media Indonesia, kemarin.

Pasalnya, kata Ari, sekolah perlu mempersiapkan segala sesuatunya untuk dapat menjelaskan lagi kepada orangtua dan siswa, terlebih jika itu kebijakan baru.

Senada, Kepala SMP Negeri 52 Jakarta Heru Purnomo mengaku belum paham sepenuhnya mengenai Asesmen Nasional (AN) 2021. "Informasi AN yang kami terima dari Kemendikbud melalui insan media," sahut Heru Purnomo yang juga Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) itu.

Saat dihubungi terpisah, Kepala SMK Model PGRI Mejayan, Madiun, Jawa Timur, Sampun Hadam mengaku siap menjalankan asesmen nasional. "Kami siap sebagai sekolah kejuruan," ucapnya.

Asesmen Nasional 2021 adalah pemetaan mutu pendidikan pada seluruh sekolah, madrasah, dan program kesetaraan jenjang sekolah dasar dan menengah.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim menyampaikan asesmen minimun tidak lagi mengevaluasi capaian peserta didik secara individu, tetapi mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan. Nadiem menyatakan tidak perlu persiapan khusus dalam menghadapi Asesmen Nasional 2021.

Meski begitu, Ari Rosandi justru mendapati beragam kumpulan soal asesmen nasional di salah satu toko buku terbesar di Indonesia.

SDM unggul

Pada program penilaian pelajar internasional (PISA) 2015 diketahui sebanyak 55% anak Indonesia memiliki kemampuan kognitif di bawah rata-rata. Hal itu cukup disayangkan.

Karena itu, dalam upaya menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul, Tanoto Foundation berupaya menghadirkan pendidikan yang berkualitas lewat program Sigap, Pintar, dan Teladan.

Sigap merupakan program yang bertujuan menanggulangi dampak stunting di Indonesia dengan mendukung upaya-upaya yang mengoptimalkan stimulasi kognitif di usia dini.

"Target Tanoto Foundation aktif mendukung langkah-langkah yang akan menurunkan prevalensi stunting di Indonesia agar menjadi kurang dari 20% pada 2030," kata CEO Global Tanoto Foundation, Satrio Tanudjojo, saat media visit virtual bersama Media Group, kemarin.

Melalui program Pintar, Tanonto Foundation berupaya membangun tenaga pendidik yang berkualitas demi meningkatkan kemampuan siswa didik. "Kami telah bekerja sama dengan 20 kabupaten di 5 provinsi dalam program ini," tambah Head of Early Childhood Education & Developement Tanonto Foundation Eddy Henry. (Ata/H-2)

BERITA TERKAIT