13 October 2020, 08:19 WIB

Bisnis Energi Jadi Solusi Kala Wisata Alam Stagnasi Saat Pandemi


Lilik Darmawan | Nusantara

KABUT berarak menelusup di antara tingginya pepohonan. Air pegunungan mengalir di sela-sela bebatuan, dingin. Udaranya juga sejuk sekitar 20 derajat Celcius. Begitulah suasana di Desa Karangsalam,  Kecamatan Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng). Setiap akhir pekan atau hari libur, dipastikan banyak pengunjung yang datang ke tiga destinasi wisata yang dimiliki Karangsalam. Yakni Camp Area Umbul Bengkok (CAUB), Curug Telu yang merupakan air terjun serta Taman Bambu.
 
"Wisata telah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat di Desa Karangsalam. Dengan adanya destinasi itu, mendorong masyarakat untuk membuka warung dan rumah makan. Selain wisata alam, Karangsalam juga kaya wisata kuliner yang menyajikan makanan khas desa," ungkap Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tirta Kamulyan, Karangsalam, Slamet Setiawan kepada mediaindonesia.com, Sabtu (10/10).

Ia mengatakan, dalam sebulan jumlah kunjungan wisata mencapai 5 ribu hingga 6 ribu wisatawan. Tidak saja berasal dari Banyumas, melainkan juga dari luar kota. Mereka senang datang ke Karangsalam, karena udaranya sejuk dan lingkungannya masih asri. Dengan banyaknya wisatawan yang datang, otomatis mendatangkan pendapatan. Misalnya, pada 2019 saja, Pokdarwis mampu menyetor untuk pendapatan asli desa (PADes) senilai Rp43 juta.

Kondisi berubah drastis ketika pandemi Covid-19 datang. Selama empat bulan, mulai April hingga Juli lalu, seluruh tempat wisata ditutup, tak terkecuali tiga destinasi di Karangsalam. Pendapatan jelas tidak ada sama sekali. Baru mulai Agustus lalu dibuka lagi tempat wisatanya, tetapi jumlah pengunjung tidak terlalu banyak. Pada Agustus hanya 1.900 wisatawan yang datang, dan awal Oktober sekarang selama sepekan kurang dari 300 pengunjung.

"Kondisi pandemi mengubah semuanya, secara drastis. Kunjungan yang diperkirakan bakal melonjak tahun 2020 menjadi berantakan," ungkapnya.

Sehingga untuk menyumbang PADes, sama sekali tidak ada. Slamet hanya menyodorkan nota pembelian material untuk mempercantik destinasi wisata.Kepala Desa (Kades) Karangsalam Daryono mengakui sangat berdampak dengan datangnya pandemi Covid-19. Sebab, biasanya dalam setahun, ada pendapatan PADes cukup besar, di tahun 2020 sepertinya akan turun drastis.'

"Bisa saja, hanya tinggal 10% jika dibandingkan dengan pendapatan tahun sebelumnya. Apalagi sampai sekarang belum normal kondisinya dan pengunjung juga belum optimal," kata dia.

Namun, di tengah terpuruknya sektor wisata yang mengalami stagnasi akibat pandemi, ternyata ada sepercik harapan yang datang, yakni bisnis energi.

"Pada Juni lalu, akhirnya terealisasi pembukaan Pertashop di Desa Karangsalam. Pemdes menyambut baik stasiun pengisian bahan bakar tersebut di sini. Desa jadi mendapatkan pemasukan dari penyewaan tanah bengkok. Nilainya Rp1 juta setiap bulannya. Dalam kondisi sulit akibat pandemi, pendapatan tersebut sangat berarti," ungkap Daryono. 

Disambut Warga
 
Pada awal pendirian, kata Kades, pengelolaan masih dipegang oleh Pertamina. Namun demikian, nantinya akan diserahkan pengelolaannya oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). “Jika nantinya dikelola oleh BUMDes, tentu pemasukan akan lebih besar. Dari sisi pemdes, dengan adanya Pertashop tersebut akan menggerakkan usaha yang dimiliki BUMDes. 

"Misalnya, kami telah berencana membuat warung di sekitar Pertashop. Desa ingin seperti SPBU yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas di sekelilingnya. Kalau Pertashop di tingkat desa, nantinya akan ditambah dengan warung-warung di sekitarnya," jelas Kades.

 Ia mengatakan dengan kehadiran Pertashop di Karangsalam, maka warga tidak perlu jauh-jauh ke SPBU. Sebab, harga pertamax yang dijual di Pertashop sama dengan yang ditawarkan di SPBU. Ukurannya juga tepat, tidak ada pengurangan.

Salah seorang warga yang Dirun, 54, mengatakan sebelum adanya Pertashop, ia harus turun ke bawah atau ke Kota Purwokerto dari Baturraden dengan jarak 10 km untuk dapat membeli BBM. 

"Sekarang sudah dekat, tidak perlu ke Purwokerto lagi. Meski di sini hanya menyediakan pertamax, tetapi tidak masalah," ¬Ěkata Dirun yang mengendarai minibus keluaran tahun 1990-an tersebut.

Tidak hanya Dirun yang merasakan dampak baiknya, tetapi juga Yuniati, 43, yang membeli Pertamax untuk sepeda motornya. Sebelum ada Pertashop, ada dua pilihan beli yakni di SPBU Purwokerto atau di pengecer. 

"Kalau ke SPBU jaraknya jauh, namun jika ke pengecer harganya lebih mahal dan ukurannya tidak tepat. Jika di sini kan harganya sesuai, ukurannya pas. Jadi, jelas sangat membantu bagi warga yang berada jauh dari SPBU," ungkapnya.

baca juga: Harga Cabai dan Bawang Merah di Aceh Utara Melonjak

Bagi Slamet, Ketua Pokdarwis Tirta Kamulyan, kehadiran Pertashop tak hanya membantu mempermudah masyarakat dalam membeli BBM, tetapi lebih dari itu, kehadirannya mampu menjadi pendukung infrastruktur pengembangan wisata desa. 

"Memang, saat sekarang wisata lagi lesu. Namun, pascapandemi saya yakin akan berkembang pesat dengan meningkatnya jumlah wisatawan. Nah, dengan demikian, maka kebutuhan BBM juga akan tinggi, sehingga Pertashop sangat dibutuhkan. Pengunjung tidak akan bingung mencari BBM lagi. Karena untuk sampai ke Desa Karangsalam, butuh BBM lebih karena jalannya menanjak. Namun dengan dengan Pertashop, wisatawan tak perlu khawatir lagi kehabisan BBM," ujarnya.

Petugas Pertashop Karangsalam, Raras Adi, 19, mengungkapkan bahwa pada awal buka, rata-rata harian baru mampu menjual sebanyak 300-400 liter Pertashop setiap harinya. Namun, saat sekarang sudah mengalami kenaikan  hingga 100% karena dapat mencapai 600-700 liter per hari. 

"Mereka yang membeli tidak hanya berasal dari Desa Karangsalam, tetapi juga desa-desa sekitarnya. Kalau akhir pekan juga cukup ramai, karena obyek wisata sudah dibuka meski pengunjungnya belum sebanyak seperti sebelum pandemi. Tapi, pengunjung kebanyakan mampir ke sini beli BBM," kata dia.

Secara terpisah, Sales Branch Manager Pertamina MOR IV Rayon IV Banyumas-Cilacap Adeka Sangtraga berharap kehadiran Pertashop tidak hanya memudahkan warga memperoleh BBM secara dekat saja, melainkan juga dapat menggeliatkan ekonomi masyarakat. 

"Dengan adanya Pertashop diharapkan akan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat. Apalagi kerja sama dibangun dengan BUMDes, sehingga desa juga mendapat dampak positifnya," ujar Adeka.

Dijelaskan oleh Adeka, Karangsalam merupakan satu dari empat titik Pertashop yang dibangun di Banyumas. Dan Pertashop Karangsalam merupakan tempat pengisian BBM paling cepat berkembangnya jika dibandingkan dengan tiga titik lainnya. Pertashop di Karangsalam tidak hanya mendekatkan layanan, melainkan juga mampu menjadi alternatif solusi ketika wisata mengalami stagnasi di saat masa pandemi sekarang ini. (OL-3)
 

BERITA TERKAIT