13 October 2020, 07:15 WIB

Ribuan Penduduk Asli Demo untuk Akhiri Kekerasan di Kolombia


Faustinus Nua | Internasional

RIBUAN penduduk asli berdemonstrasi di barat daya Columbia pada Senin (12/10), guna menuntut diakhirinya kekerasan. Demonstrasi itu juga sebagai peringatan kedatangan Christopher Columbus di Amerika.

Dengan mengenakan pakaian hijau dan merah serta membawa tongkat tradisional, para demonstran berkumpul di kota Cali. Mereka berharap bisa bertemu dengan Presiden Ivan Duque.

"Alasan utama kami berbaris adalah pembantaian sistematis yang terjadi di wilayah kami tanpa ada perhatian dari pemerintah," kata Franky Reinosa dari Dewan Adat Regional di negara bagian Caldas bagian barat.

Para demonstran menuntut untuk diajak berkonsultasi mengenai proyek-proyek pembangunan besar. Pun, untuk implementasi penuh dari rencana perdamaian bersejarah 2016 yang mengakhiri setengah abad perlawanan bersenjata oleh pemberontak Pasukan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC).

Baca juga: Mantan Presiden Kolombia Jadi Tahanan Rumah

Menteri Dalam Negeri Alicia Arango mengatakan di akun Twitternya, delegasi pemerintah sedang melakukan perjalanan ke Cali untuk menemui para pengunjuk rasa. Demonstrasi tersebut bertepatan dengan peringatan kedatangan Christopher Columbus di Amerika pada tahun 1492, yang dikenal di banyak negara di kawasan itu sebagai Hari Perlombaan.

"Bagi kami (itu) adalah etnosida terbesar dalam sejarah wilayah kami," ucap Reinosa.

Bagian barat daya Kolombia yang berbatasan dengan Ekuador dan Pasifik memiliki populasi penduduk asli yang besar. Wilayah itu merupakan salah satu daerah yang paling parah terdampak gelombang kekerasan. PBB menyebut ada sekitar 42 pembantaian di tahun ini yang terjadi di wilayah barat daya Kolombia.

Terlepas dari kesepakatan damai 2016, kelompok bersenjata tetap aktif di Kolombia memperebutkan perdagangan perdagangan narkoba yang menguntungkan. Mengingat, Kolombia adalah penghasil kokain terbesar di dunia.

Mewakili 4,4% dari 50 juta penduduk Kolombia, penduduk asli telah memperjuangkan hak teritorial selama beberapa dekade. Mereka menggunakan metode seperti pemblokiran jalan untuk mendapatkan perhatian.(AFP/OL-5)

BERITA TERKAIT