13 October 2020, 06:42 WIB

Bentrokan Baru Ancam Gencatan Senjata di Nagorno-Karabakh


Faustinus Nua | Internasional

AZERBAIJAN dan pasukan etnik Armenia, Senin (12/10), saling menuduh melancarkan serangan baru di dan sekitar Nagorno-Karabakh. Insiden itu meningkatkan kembali ketegangan setelah persetujuan gencatan senjata untuk kemanusiaan selama dua hari dengan harapan dapat mengakhiri pertempuran sengit di daerah pegunungan itu.

Kementerian Pertahanan Azerbaijan mengatakan pasukan Armenia telah mencoba menyerang posisi mereka di sekitar wilayah Aghdere-Aghdam dan Fizuli-Jabrail, serta menembaki wilayah di wilayah Goranboy, Terter dan Aghdam di dalam Azerbaijan.

Sementara, Nagorno-Karabakh mengatakan pasukannya telah menimbulkan kerugian pada pasukan Azeri dan operasi militer skala besar terus berlanjut di daerah Hadrut di kantong pegunungan.

Baca juga: UE Prihatin atas Pelanggaran Gencatan Senjata di Nagorno-Karabakh

Rusia, yang menjadi perantara gencatan senjata, meminta kedua belah pihak menghormati kesepakatan itu.

Luksemburg menegaskan kembali seruan Uni Eropa kepada Turki, sekutu Azerbaijan, untuk berbuat lebih banyak guna mengakhiri permusuhan yang telah menewaskan ratusan orang.

Pertempuran itu merupakan yang paling mematikan terjadi di Nagorno-Karabakh selama lebih dari 25 tahun. Dunia internasional pun mengawasi dengan ketat, lantaran pertempuran itu dekat dengan pipa gas dan minyak Azeri.

Baik Ankara dan Moskow berada di bawah tekanan untuk menggunakan pengaruh mereka di wilayah tersebut agar dapat mengakhiri pertempuran. Sehingga, Rusia menengahi kedua pihak untuk melakukan gencatan senjata.

Gencatan senjata kemanusiaan dimaksudkan untuk memungkinkan pasukan etnik Armenia dan Azerbaijan menukar tahanan dan tubuh orang yang terbunuh dalam dua minggu pertempuran di Nagorno-Karabakh. Tapi gencatan senjata gagal dengan cepat.

Azerbaijan, Minggu (11/10) mengatakan pihaknya melancarkan serangan udara terhadap resimen Armenia, menyusul serangan roket Armenia di sebuah gedung apartemen. Namun, Armenia membantah melakukan serangan semacam itu. (CNA/OL-1)

BERITA TERKAIT