13 October 2020, 06:07 WIB

Pengetahuan Masyarakat, Kunci Minimnya Korban Bencana Alam


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

SESUAI rencana penanggulangan bencana 2013-2018, di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), ada sembilan jenis bencana yang berpotensi terjadi dengan empat jenis bencana tergolong dominan di antaranya adalah Erupsi Gunung Api Karangetan.

Bupati Sitaro Evangelian Sasingen mengatakan puluhan ribu penduduk berisiko erupsi Gunung Karangetang. Selain itu, dampak erupsi pada Mei 2015, silam mengakibatkan 469 jiwa warga mengungsi meskipun status gunung Siaga Level III.

"Kurang lebih 46 ribu jiwa penduduk yang bermukim di Pulau Siau berisiko terhadap ancaman erupsi Gunung Karangetang. Pada 7 Mei 2015, terjadi erupsi dengan mengakibatkan 469 jiwa warga yang berada di tiga wilayah di Kecamatan Siau Timur, yakni di Dusun Kola kola, Kelurahan Bebali dan Tampuna, diungsikan ke tempat yang cukup aman, status gunung Siaga Level III," tutur Evangelien saat seminar virtual dalam rangka Bulan Peringatan Risiko Bencana di Bogor, Senin (12/10).

Baca juga: Pangeran William Serukan Aksi untuk Krisis Iklim

Lebih lanjut ia menambahkan, masyarakat Sitaro sangat terbuka dan mempunyai kesadaran akan bencana yang akan melanda daerah mereka, sehingga risiko yang terjadi bisa diminamilisasi.

"Masyarakat Sitaro terbuka dan religius serta menghormati tradisi. Sehingga kondisi ini, dalam upaya penanggulangan bencana, sangat membantu sehingga risiko bisa minimal. Masyarakat Sitaro juga termasuk masyarakat yang cukup peka terhadap bencana, semisal dengan peningkatan aktivitas Gunung Karangetang, umumnya masyarakat akan melakukan evakuasi mandiri ke lokasi yang lebih aman," tambahnya.

"Pendekatan kekeluargaan menjadi salah satu kunci, latar belakang masyarakat homogen cukup memudahkan dalam proses evakuasi warga," ungkapnya.

Upaya pemda dalam meningkatkan respon masyarakat di antaranya membentuk 19 desa tangguh bencana. Selain itu, mitigasi bencana berbasis komunitas melalui pembentukan jemaat tangguh bencana. Saat ini, sudah terbentuk enam jemaat tangguh bencana yang berada di Kepulauan Siau.

Selanjutnya, membentuk sekolah tangguh bencana untuk membangun mitigasi bencana sejak dini sebagai upaya meningkatkan respon masyarakat terhadap peringatan dini ancaman bencana Gunung Api Karangetang.

Sudah ada satu sekolah tangguh bencana di Kepulauan Siau yang berada dekat dengan Gunung Api Karangetang.

Pelibatan sejumlah pihak dalam konsep penanggulangan bencana di daerah sudah dilakukan, dengan kehadiran para relawan. (OL-1)

BERITA TERKAIT