13 October 2020, 05:43 WIB

TGPF Intan Jaya Tuntaskan Investigasi


Emir Chairullah | Politik dan Hukum

TIM Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kasus Intan Jaya yang dibentuk Menko Polhukam telah menyelesaikan pengumpulan data dan informasi lapangan terkait dengan penembakan Pendeta Yeremia Zanambani. Menurut Ketua TGPF Benny Mamoto, pihaknya sudah mewawancarai sekitar 25 saksi yang berada di tempat kejadian perkara (TKP), tetapi TGPF belum mengungkapkan hasil investigasi secara detail.

“Kami sudah bekerja secara maksimal meski dalam kondisi ancaman gangguan keamanan di sana, kami bisa mengejar target dan relatif kami capai. Kami sudah lakukan olah TKP bertemu saksi di TKP dsb, meski pulang dari TKP kami dihadang tembakan. Kini kami siap kembali ke Jakarta untuk meneruskan sisa waktu tugas yang tinggal beberapa hari,” ujarnya dalam keterangan pers yang diterima wartawan, kemarin.

Disebutkan, TGPF sudah melakukan wawancara terhadap sejumlah saksi di lapangan, termasuk tokoh agama dan tokoh lokal. “Karena tim ini bukan pro justitia, kami bekerja dengan cara yang lebih luas ketimbang penyelidikan yang diatur di KUHAP yang setiap tahap pada prosedurnya. Untuk memperoleh informasi, kami mendatangi, kami dibantu tokoh agama dan tokoh lokal, jika ada kendala bahasa kami dibantu diterjemahkan,” kata Benny.

Namun, ada satu saksi yang sempat terkendala. “Target kami semua dapat. Ada satu saksi yang sempat terkendala tidak bisa datang ke Sugapa, tapi kami bisa mengatasinya melalui komunikasi telepon karena sifatnya hanya konfirmasi,” kata Ketua Benny.

Benny menyebutkan, walaupun sempat mengalami penolakan, keluarga korban mengizinkan dilakukannya autopsi dan menandatangani BAP. “Sehingga proses penyelidikan penegak hukum yang selama ini terhambat karena penolakan keluarga korban menandatangani BAP, akhirnya sekarang bisa berjalan,” jelasnya.

Benny menjelaskan investigasi di lapangan berjalan lancar karena TGPF Intan Jaya terdiri atas berbagai elemen yang sangat solid, seperti perwakilan tokoh masyarakat, perwakilan akademisi, perwakilan gereja, serta perwakilan Polri, TNI, dan BIN. Tokoh-tokoh yang terlibat antara lain Pendeta Henok Bagau dari Intan Jaya, Jhony Nelson Simanjuntak dari PGI, Taha Alhamid, Makarim Wibisono, Constan Karna, Michael Menufandu, I Dewa Gede Palguna, Apolo Safanpo, Bambang Purwoko, Samuel Tabuni, Edwin Partogi, Jaleswari Pramodhawardani, serta perwakilan dari Polri, TNI, dan BIN.

Terkait dengan penghadangan dan penembakan kepada tim, Benny menegaskan, ”Sebagian besar anggota tim tidak dididik militer atau kepolisian, tentu shock, tetapi kami tidak larut, kami tidak gentar dengan cara-cara seperti itu, kami tetap bekerja karena kami ada target, waktu kami pendek 14 hari. Tim kami solid dan punya komitmen tidak kenal menyerah.”

Ahli tambahan

Rektor UGM, Panut Mulyono, menyampaikan bahwa kondisi Bambang Purwoko (BP) yang menjadi korban penembakan di Intan Jaya, Papua, sudah membaik dan stabil. UGM pun siap menambah tenaga ahli untuk membantu BP yang saat ini masih dirawat di rumah sakit.

Saat ini, BP masih istirahat dulu di rumah sakit pascapenembakan. Namun, TPGF tetap terus bekerja.

“Kalau diminta (tambahan tenaga ahli) oleh pemerintah, kita akan kirim,” jelas dia di kompleks Kepatihan, DIY, kemarin. Selain BP, akademisi UGM juga banyak yang memiliki konsen tinggi dalam pembangunan di Papua melalui Pokja Papua. (AT/P-5)

BERITA TERKAIT