12 October 2020, 18:05 WIB

Kampung Pajoreja di NTT Disiapkan Jadi Wisata Premium


Ignas Kunda | Nusantara

BADAN Otorita Pariwisata Labuan Bajo bersama warga desa Ululoga serta para ASN dari Dinas Pariwisata Kabupaten Nagekeo, NTT melakukan pembersihan dan penataan sarana wisata di kampung wisata Pajoreja, NTT. Senin (12/10).  

Pembersihan ini sebagai semangat gerakan " BISA " ( bersih, indah, sehat, aman) menyambut adaptasi kebiasaan baru di destinasi wisata dengan penerapan protokol kesehatan. 

Selain itu kegiatan ini juga sebagai persiapan dan penataan kampung Pajoreja sebagai destinasi premium dengan keunikannya sendiri yang berbeda dari semua destinasi wisata di Pulau Flores.

Pembersihan dan penataan  dilakukan pada tempat wisata pemandian air panas Lowo Ae Bana yang berjarak dua kilometer dari Kampung Pajoreja serta lingkungan setempat.

Selain pembersihan sarana wisata, BOP Labuan Bajo juga memberikan sosialisasi penerapan protokol kesehatan kepada para pemilik homestay di Kampung Pajoreja serta memberikan sejumlah saran cara mengembangkan kearifan lokal sebagai potensi wisata unggulan desa yang ekslusif.

Bapa Desa Ulu Loga, Petrus Leko, mengatakan sangat berterima kasih atas kegiatan yang dilakukan oleh BOP dan pihaknya sangat terbuka serta antusias atas kegiatan ini walaupun dalam kesibukan sebagian warganya yang sedang panen cengkeh.

"Kami sangat berterima kasih dan kami sangat terbuka atas kedatangan BOP di kampung ini dalam persiapan kampung wisata ," katanya.

Menurut Direktur BOP Labuan Bajo Shana Fatina, Kampung Pajoreja memiliki keunikan dan keunggulan tersendiri karena berada di bawah kaki Gunung Ebulobo serta bisa memandang lautan. 

"Kalau kita datang ke sini ada aroma cengkeh dimana ini ada keunikan. Wisatawan datang dengan suatu pengalaman otentik seperti harum cengkeh dan ini sangat premium," kata Shana.

Shana menambahkan, melihat dan merasakan apa yang dikerjakan atau aktivitas warga di kampung Pajoreja juga menjadi daya tarik dan keunikan  wisata tersendiri karena pariwisata tanpa persaudaraan tidak akan indah.

Selain itu menurut Shana dalam era pandemi cara pandang wisatawan telah berubah cara mereka merencanakan perjalanan wisata karena yang menjadi prioritas adalah rasa aman bersih dan sehat terhindar dari serangan virus ataupun penyakit.

"Kedepannya dunia berubah, cara mereka merencanakan parawisata berubah. Sekarang berubah apakan daerah wisata itu aman  dari covid maka itu perlu membuat destinasi wisata yang memiliki rasa aman. Bersih sehat aman. Ini adalah syarat utama terutama bagi wisatawan premium.

"Kita akan lihat apa yang bisa kembangkan, soal pasarnya dan melanjutkan  dua ring of beauty di Nagekeo. Kalau bandara di labuan bajo jadi bandara internasional maka ada 4 juta wisatawan yang datang, Nagekeo mau ambil berapa dari 4 juta itu?," ujar perempuan penyuka gunung ini.

Bupati Nagekeo Yohanes Don Bosco Do menilai, bercocok tanam, memetik cengkeh adalah sebuah wisata bagi orang luar dan sangat mahal sehingga merupakan sebuah pengalaman yang otentik. Kegiatan itu merupakan pengalaman berharga buat mereka dan merupakan jualan wisata di bagian selatan Nagekeo.

"Kita harus melaju dan menangkap peluang apa yang kita bisa dukung negera-negara peserta G20 tahun 2023 ada pertemuan di labuan bajo, kita di Nagekeo harus bisa mengambil bagian untuk apa yang bisa kita jual atau bawa ke labuan bajo," katanya

Kampung Pajoreja berada di Kecamatan Mauponggo berada tepat di bawah kaki gunung Ebulobo. Kampung ini diapit perbukitan yang menjuntai pada sisi timur dan barat. 

Pada September hingga Oktober aktivitas warga banyak di perkebunan cengkeh untuk memetik bunganya. Beragam tanaman seperti pala, coklat, vanili, stroberi, kopi kelapa, pinang, serta buah naga tumbuh subur disekitar kebun milik warga di dekat kampung. 

Selain itu adanya air sungai dibawah lembah yang masih terpelihara dengan baik. (OL-8)

BERITA TERKAIT