12 October 2020, 14:47 WIB

Ilmuwan Hong Kong Klaim Obat Mag Bisa Lawan Covid-19


Faustinus Nua | Internasional

ILMUWAN Hong Kong menyatakan bahwa obat anti-mikroba yang digunakan untuk mag dan infeksi bakteri, berpotensi besar melawan covid-19.

Para peneliti mulai mengeksplorasi apakah metalodrug, senyawa yang mengandung logam untuk melawan bakteri, juga memiliki sifat yang dapat melawan virus SARS-CoV-2. Dengan menggunakan hamster Suriah sebagai subyek tes, peneliti menemukan salah satu obat, ranitidine bismuth citrate (RBC), sebagai agen anti-SARS-CoV-2 yang manjur.

"RBC mampu menurunkan viral load di paru-paru hamster yang terinfeksi hingga 10 kali lipat," ujar peneliti Universitas Hong Kong Runming Wang.

Baca juga: 172 Negara Sudah Daftar Portofolio Vaksin WHO

"Temuan kami menunjukkan bahwa RBC adalah agen anti-virus potensial untuk covid-19," imbuhnya.

Para ilmuwan Hong Kong menyebut RBC adalah obat yang umum digunakan untuk melawan asam lambung, dengan profil farmakologis yang aman dan komprehensif. "Ini telah digunakan selama beberapa dekade, sehingga cukup aman," pungkas Wang.

Dalam penelitian yang telah diterbitkan jurnal Nature Microbiology, peneliti menyatakan metalodrug lain juga berpotensi melawan virus covid-19, namun perlu ada eksplorasi lanjutan.

Covid-19 telah menewaskan lebih dari satu juta orang sejak pertama kali muncul di Tiongkok. Virus itu kemudian menyebar ke seluruh dunia. Para ilmuwan masih berjuang mencari vaksin yang tepat. Termasuk, mengeksplorasi sejumlah obat yang sudah tersedia, khususnya untuk meringankan gejala covid-19.

Baca juga: Tidak Ingin Monopoli, Tiongkok Siap Bagikan Vaksin Covid-19

Remdesivir, obat antivirus berspektrum luas, berikut deksametason sejenis kortikosteroid, telah diidentifikasi berhasil melawan virus. Obat tersebut digunakan tim dokter yang merawat Presiden Amerika Serikat Donald Trump, setelah dinyatakan positif covid-19.

Akan tetapi, kedua jenis obat itu memiliki kekurangan. Remdesivir tergolong obat mahal. Sementara itu, deksametason mempunyai efek penekanan kekebalan yang berisiko, kecuali pasien dengan gejala paling parah.(CNA/OL-11)

 

BERITA TERKAIT