12 October 2020, 14:46 WIB

Strategis Pemerintah Hadapi Resesi dengan Tingkatkan Daya Beli


M. Iqbal Al Machmudi | Ekonomi

MENGHADAPI resesi yang dipastikan melanda perekonomian Indonesia sejumlah kebijakan dilakukan untuk menjaga agar perekonomian tidak terkontraksi semakin dalam. Salah satunya dengan meningkatkan daya beli masyarakat.

Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan strategi dengan meningkatkan daya beli dengan program sosial dari rencana awal Rp203 triliun realisasi lebih dari 100% Rp242 triliun.

Bantuan terdiri dari bantuan PKH beras Rp41 triliun sembako Rp47 triliun, bansos jabodetabek Rp6,8 triliun, bansos non jabodetabek 33 triliun, kartu prakerja Rp20 triliun, diskon listrik Rp12,3 triliun, BLT dana desa Rp31 triliun, Subsidi kuota internet Rp6,7 triliun, dan bantuan tunai buruh Rp3,8 triliun.

"UMKM disediakan dana Rp123 triliun dan realisasi lebih besar Rp128 triliun ini dalam subsidi bunga, penempatan dana, PPH final," kata Airlangga saat dialog virtual yang diadakan BNPB, Senin (12/10).

Pemerintah sendiri berkomitmen untuk mengutamakan sektor usaha kecil dan menengah dari segi daya beli dan dari segi supply side saat menghadapi resesi.

Baca juga : Pemerintah Beri Stimulus Kelompok Nelayan di Mentawai

"Jika berbicara resesi maka dibandingkan dengan negara lain ada 215 masuk resesi dan Indonesia diurutan ke 5 yang dianggap kontraksi perekonomiannya lebih rendah dibanding yang lain," ungkapnya.

Dirinya yakin tidak butuh waktu lama untuk memulihkan perekonomian Indonesia. Pada 2021 ketika vaksin ditemukan perekonomian akan perlahan membaik.

"Jadi kita lihat vaksinisasi di 2021 perekonomian Indonesia akan tumbuh 4,5-5,5% belajar dari krisis dan resesi ekonomi itu akan membaik ketika sains dan ekonomi sudah bekerja dalam hal ini vaksinasi mulai bertahap sehingga optimisme meningkat data dari BPS sebagaian di rumahkan sudah bekerja kembali mulai 40% ke atas," jelasnya.

Sebalumnya, perekonomian Indonesia sudah dipastikan akan mengalami resesi karena

pertumbuhan perekonomian pada kuartal II -5,32%, dan dipastikan juga kontraksi di kuartal III. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT