12 October 2020, 14:41 WIB

TGPF Intan Jaya Tuntaskan Investigasi


Emir Chairullah | Politik dan Hukum

TIM Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kasus Intan Jaya yang dibentuk oleh Menko Polhukam telah menyelesaikan pengumpulan data dan informasi lapangan terkait penembakan Pendeta Yeremia Zanambani.

Menurut Ketua TGPF Benny Mamoto, pihaknya sudah mewawancarai hingga sekitar 25 saksi yang berada di TKP. Namun TGPF belum mengungkapkan hasil investigasi secara detail.

“Kami sudah bekerja secara maksimal, meski dalam kondisi ancaman gangguan keamanan disana, kami bisa mengejar target dan relatif kami capai. Kami sudah lakukan olah TKP bertemu saksi di TKP, dsb, meski pulang dari TKP kami dihadang tembakan. Kini kami siap kembali ke Jakarta untuk meneruskan sisa waktu tugas yang tinggal beberapa hari,” ujarnya dalam keterangan pers yang diterima wartawan, Senin (12/10).

Disebutkan, TGPF sudah melakukan wawancara terhadap sejumlah saksi di lapangan termasuk tokoh agama dan tokoh lokal. “Karena tim ini bukan pro justicia, kami bekerja dengan cara yang lebih luas ketimbang penyelidikan yang diatur di KUHAP yang setiap tahap pada prosedurnya. Untuk memperoleh informasi, kami mendatangi, kami dibantu tokoh agama dan tokoh lokal, jika ada kendala bahasa kami dibantu diterjemahkan,” kata Benny.

Baca juga : Sidang Vonis Jiwasraya, Hakim Diharapkan Kabulkan Tuntutan Jaksa

Benny menyebutkan, walaupun sempat mengalami penolakan, keluarga korban mengizinkan dilakukannya autopsi dan menandatangani BAP. “Sehingga proses penyelidikan penegak hukum yang selama ini terhambat karena penolakan keluarga korban menandatangani BAP, akhirnya sekarang bisa berjalan,” jelasnya.

Benny menjelaskan bahwa investigasi di lapangan berjalan lancar karena TGPF Intan Jaya terdiri dari berbagai elemen yang sangat solid, seperti perwakilan tokoh masyarakat, perwakilan akademisi, perwakilan gereja, serta perwakilan Polri, TNI dan BIN. Tokoh-tokoh yang terlibat antara lain Pendeta Henok Bagau dari Intan Jaya, Jhony Nelson Simanjuntak dari PGI, Taha Alhamid, Makarim Wibisono, Constan Karna, Michael Menufandu, I Dewa Gede Palguna, Apolo Safanpo, Bambang Purwoko, Samuel Tabuni, Edwin Partogi, Jaleswari Pramodhawardani, dan perwakilan dari Polri, TNI dan BIN.

Terkait penghadangan dan penembakan kepada tim, Benny menegaskan, ”Sebagian besar anggota tim tidak dididik militer atau kepolisian, tentu shock, tetapi kami tidak larut, kami tidak gentar dengan cara-cara seperti itu, kami tetap bekerja karena kami ada target, waktu kami pendek 14 hari. Tim kami solid dan punya komitmen tidak kenal menyerah,” ujarnya. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT