12 October 2020, 08:00 WIB

Perempuan di Balik Sukses Kopi Gayo Hingga Mancanegara


mediaindonesia.com | Ekonomi

                             

KOPI gayo asal Aceh telah tersohor di berbagai belahan dunia. Cita rasa dan aroma khas, ditambah konsistensi para petani dalam menjaga kualitas adalah kunci keberhasilan menembus pasar global.

Salah satu petani yang berhasil memasarkan kopi gayo ke mancanegara ialah Rahmah. Berawal dari skala rumahan, ia berhasil memasarkan kopi gayo ke berbagai belahan dunia, seperti Amerika, Eropa, dan Asia.

Kesuksesan Rahmah turut mengangkat potensi 1.500 petani yang 70% di antaranya perempuan. Alasan Rahmah mengajak banyak perempuan karena ingin membuat mereka lebih maju. "Kita punya koperasi bernama Ketiara. Kita ajak perempuan bergabung, kita sosialisasikan bagaimana caranya merawat kopi yang benar. Jadi tidak selamanya perempuan itu hanya di dalam rumah, nyuci atau memasak. Kalau sekarang harus serba bisa," ungkap Chairwomen Koperasi Ketiara itu, dalam program Lady Boss yang tayang di Metro TV.

Rahmah mengekspor kopi yang banyak ditemukan di Kota Takengon, Aceh Tengah, sejak 2010. Saat ini, produksinya mencapai 130 kontainer per tahun. Mayoritas pasar ekspor adalah AS, yakni sekitar 70%. "Jadi di Amerika kopi dari Koperasi Ketiara sudah ada di market-market," katanya.

Upaya promosi, ia acap kali mengikuti pameran internasional, antara lain melalui The Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) maupun The Specialty Coffee Association of America (SCAA). Salah satu keunggulan kopi gayo ialah perpaduan rasa yang beragam. "Karena petani itu menanam dengan cara tumpang sari, ada rasa jeruk, cokelat, madu, tembakau, alpukat, jeruk dan masih banyak lagi."

 

Dukung UMKM
Vice President Micro Business Policy Divison Bank BRI Fita Arisanti mengapresiasi kiprah Rahmah sebagai eksportir kopi gayo. "Bu Rahmah luar biasa karena dia sukses tidak untuk diri sendiri tapi juga mengajak orang sekitarnya khususnya para perempuan. Itu luar biasa karena sukses itu bukan untuk diri sendiri," ujar Fita.

Menurutnya, apa yang dilakukan Rahmah bisa menjadi contoh menerapkan kunci sukses dalam berbisnis. Antara lain low profile, punya motivasi tinggi, dapat memberdayakan orang lain, dan mampu berkolabolasi. "Karena gak mungkin bisa sendiri. Bu Rahmah gak bisa memberdayakan orang kalau dia tidak ada kolaborasi," jelasnya.

Di sisi lain, lanjutnya, menjadi womenpreneur memiliki tantangan tersendiri. Sebagai perempuan, khususnya yang sudah menikah, kewajiban mengurus rumah tangga juga tidak bisa ditinggalkan.

Fita memberikan tips bagi perempuan yang ingin memulai usaha. Pertama, katanya, mulailah dari aktivitas yang bisa dilakukan di rumah. "Karena dari rumah, mulailah membangun network dari lingkungan yang paling dekat karena itu sarana untuk menjual yang paling cepat. Kemudian, jangan lupa gunakan media sosial untuk memasarkan produk-produk yang dibikin dari rumah. Itu untuk tips awal," paparnya.

Dalam hal ini, lanjut Fita, BRI mendukung dan membantu UMKM untuk mengembangkan bisnisnya. Dia mencontohkan bantuan mesin babat untuk operasional para petani kopi gayo.

BRI juga memberikan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan pemasaran. "Misalnya kita fasilitasi bertemu dengan buyer luar negeri lewat expo," kata Fita.

BRI juga membantu UMKM pemasaran online, melalui official store, Indonesia Mall. "Jadi untuk bisa berjualan secara online, Indonesia Mall sudah berkolaborasi dengan semua platform marketplace di Indonesia dan Singapura." (Ifa/S1-25)

BERITA TERKAIT