11 October 2020, 16:06 WIB

Pelonggaran PSBB Beri Dampak Minim pada Perekonomian


M. Ilham Ramadhan Avisena | Megapolitan

PELONGGARAN Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dilakukan Pemrpov DKI selama dua pekan ke depan tidak akan berpengaruh signifikan, alias berdampak minim pada perekonomian.

"Saya kira belajar dari pengalaman PSBB transisi jilid pertama yang justru bermuara pada peningkatan kasus covid-19, justru pelonggaran PSBB yang sekarang justru bisa berakibat yang sama," ujar Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet, saat dihubungi, Minggu (11/10).

Ia tidak menampik pelonggaran PSBB akan meningkatkan geliat ekonomi di DKI Jakarta. Tapi, itu hanya bersifat jangka pendek karena potensi penyebaran virus kembali melebar. Hal tersebut nantinya akan berdampak pula pada lamanya waktu yany dibutuhkan untuk memulihkan perekonomian.

Baca juga : Anggap Covid-19 Melandai, Anies Kembalikan DKI ke PSBB Transisi

Yusuf menilai, di triwulan IV 2020 ini belanja pemerintah menjadi satu-satunya kunci untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional. Dampak dari efektivitas belanja dan serapan anggaran program PEN, kata dia, jauh lebih besar ketimbang pelonggaran PSBB di Jakarta.

"PSBB transisi ini dampaknya kepada perbaikan atau mendorong perekonomian relatif kecil, buktinya pemerintah yang tadinya masih optimis pertumbuhan ekonomi masih ada peluang untuk tumbuh positf, kemudian melakuan koreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi ke bawah. Ini menjukkan PSBB transisi tidak serta merta memang bisa secara signifikan mendorong ekonomi," jelas Yusuf.

Diketahui, Pemprov DKI mengendurkan penerapan PSBB ketat setelah berlangsung selama 1 bulan. Pelonggaran dilakukan lantaran data menunjukkan tingkat kematian akibat covid-19 telah melandai, tapi pertambahan kasus positif relatif tinggi.

Pelonggaran PSBB yang disebut sebagai masa transisi itu akan berlaku selama 2 minggu dimulai dari Senin (12/10) hingga Minggu (25/10). (OL-2)

 

BERITA TERKAIT