11 October 2020, 16:55 WIB

Penerimaan Perpajakan Turun tidak Bisa Dihindari


M Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

PENERIMAAN negara menurun di masa pandemi covid-19 merupakan hal yang tidak dapat dielakkan. Itu karena hampir semua sektor perekonomian mengalami pelemahan dan menyebabkan penerimaan perpajakan tidak optimal.

"Tidak bisa dipungkiri kondisi pandemi ini tekanannya luar biasa. Penerimaan pajak amat tergantung pada kinerja perekonomian. Jika perekonomian turun, sedemikian dalam pula penerimaan pajak," ujar Staf Khusus Menteri Keuangan Yustinus Prastowo kepada Media Indonesia, Minggu (11/10).

Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan, penerimaan perpajakan di 2020 diprediksi bakal mengalami penurunan hingga 15% menjadi Rp1.193,4 triliun dari yang ditargetkan di postur APBN versi Perpres 72/2020 sebesar Rp1.404,5 triliun.

"Pendapatan kami turun sangat signifikan. Untuk Indonesia kami perkirakan awalnya hanya turun 10%. Mungkin, sekarang kita akan mendekati penurunan pendapatan 15% dari perpajakan," kata Sri Mulyani saat menjadi panelis dalam 7th OECD Forum on Green Finance and Investment, Jumat (9/10).

Kendati demikian, Yustinus mengatakan, secara bruto penerimaan perpajakan saat ini mengalami tren perbaikan dibanding beberapa bulan sebelumnya. Hanya, karena pemerintah memberikan stimulus berupa percepatan restitusi pajak, maka penerimaan perpajakan secara neto menjadi terkoreksi.

"Ini juga sebenarnya tidak apa, karena restitusi toh membantu cashflow wajib pajak sebagai bagian dr stimulus fiskal pemerintah," terang dia.

Yustinus bilang, Direktorat Jenderal Pajak akan terus meningkatkan sinergi dan koordinasi guna memaksimalisasi penerimaan pajak di tengah tekanan dampak pandemi. Itu merupakan komitmen yang dipegang oleh otoritas pajak sebagai bagian dari pengelola keuangan negara. (OL-14)

BERITA TERKAIT