11 October 2020, 16:35 WIB

Kasus Covid-19 India Lampaui 7 Juta


Faustinus Nua | Internasional

KASUS infeksi virus korona (Covid-19) yang dikonfirmasi di India melampaui 7 juta pada Minggu (11/10). Tapi terjadi penurunan kasus baru harian dalam beberapa pekan terakhir.

Kementerian Kesehatan mencatat 74.383 infeksi lain dalam 24 jam terakhir. Diperkirakan, India akan menjadi negara yang paling parah terkena pandemi dalam beberapa minggu mendatang, melampaui AS dengan 7,7 juta infeksi yang telah dilaporkan.

Kementerian juga melaporkan 918 kematian tambahan, sehingga total kematian menjadi 108.334.

Dr Randeep Guleria, seorang pakar kesehatan pemerintah, mengatakan jumlah orang yang meninggal karena covid-19 relatif rendah di Asia Selatan dan Tenggara. Mulai dari India hingga Vietnam dan Taiwan lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara Eropa dan AS.

“Kami mampu menjaga kurva naik dengan lambat, tapi saya setuju bahwa kami belum bisa menurunkannya secara agresif. Itu terkait dengan kepadatan penduduk kita, keragaman negara kita, dan tantangan sosial ekonomi di negara kita," kata Guleria, merujuk pada populasi India yang berkembang hampir 1,4 miliar.

Meski demikian, beberapa ahli meragukan data yang diperoleh otoritas setempat. Mereka mengatakan bahwa jumlah korban tewas di India mungkin tidak dapat diandalkan karena pelaporan yang buruk dan infrastruktur kesehatan serta pengujian yang tidak memadai.

Pekan lalu, Menteri Kesehatan Harsh Vardhan menyampaikan bahwa India berencana untuk memberikan vaksin kepada 250 juta orang pada Juli 2021. Dia mengatakan bahwa pemerintah akan menerima 450 juta hingga 500 juta dosis vaksin dan akan memastikan akses yang adil.

India mengalami peningkatan tajam kasus infeksi di Juli dan menambahkan lebih dari 2 juta di Agustus dan 3 juta lain di September. Tetapi laju penyebaran virus korona lebih lambat sejak pertengahan September, ketika infeksi harian menyentuh rekor tertinggi 97.894 kasus. Dan sepanjang bulan ini, rata-rata dilaporkan lebih dari 70.000 kasus setiap hari.

Negara Asia Selatan itu memiliki tingkat pemulihan yang tinggi yaitu 85% dengan kasus aktif di bawah 1 juta. Namun, pejabat kesehatan tetap memperingatkan potensi penyebaran virus selama musim festival keagamaan yang akan datang, yang ditandai dengan pertemuan besar di kuil dan distrik perbelanjaan. Karenanya, warga diminta untuk wajib memakai masker dan menjaga jarak yang aman.

Dr S P Kalantri, direktur rumah sakit di desa Sevagram di negara bagian Maharashtra barat yang paling parah dilanda India, mengatakan bahwa orang-orang di desanya telah berhenti memakai masker, menjaga jarak, atau mencuci tangan secara teratur. Dia menambahkan bahwa orang sakit masih ada.

Sementara, sumber daya kesehatan India sendiri dinilai cukup buruk di seluruh negeri. Hampir 600 juta orang India tinggal di daerah perdesaan. Dengan virus yang menyerang pedalaman India yang luas, para ahli khawatir bahwa rumah sakit bisa kewalahan.

“Jika kami mampu berperilaku baik dalam hal jarak fisik dan masker, mungkin awal tahun depan kami harus bisa kembali normal. Covid-19 tidak akan berakhir tetapi akan di bawah kendali yang wajar dengan perjalanan dan hal-hal lain menjadi jauh lebih mudah dan orang-orang relatif lebih aman," kata Guleria.

Pensiunan ahli virologi, Dr T Jacob John, mengatakan ada kecenderungan yang meningkat di antara orang India untuk tidak memakai masker atau menjaga jarak. Media sosial telah memperparah masalah dengan menyebarkan informasi yang salah dan pengobatan palsu.

"Dan akibatnya, orang-orang sudah muak dan mulai membuat kesimpulan sendiri,” kata John.

Secara nasional, India tekah melakukan tes lebih dari 1 juta sampel per hari, melebihi tolak ukur Organisasi Kesehatan Dunia yaitu 140 tes per 1 juta orang. Tetapi banyak di antaranya tes antigen, yang mencari protein virus dan lebih cepat, tetapi kurang akurat daripada RT-PCR, yang mengonfirmasi virus korona dengan kode genetiknya.

India juga menderita secara ekonomi. Dengan rekor kontraksi 23,9% pada kuartal April hingga Juni menyebabkan jutaan pengangguran, sehingga pemerintah India terus melonggarkan pembatasan penguncian yang diberlakukan pada akhir Maret. Pemerintah pada Mei mengumumkan paket stimulus senilai US$266 miliar, tetapi permintaan konsumen dan manufaktur belum pulih.

Sejumlah besar kantor, toko, bisnis, toko minuman keras, bar, dan restoran telah dibuka kembali. Penerbangan evakuasi domestik dan internasional yang dibatasi dioperasikan bersama dengan layanan kereta api. (CNA/OL-14)

BERITA TERKAIT