11 October 2020, 12:16 WIB

Wartawan Mesti Banyak Akal Kejar Narasumber


Fachri Audhia Hafiez | Humaniora

ANGGOTA Dewan Pers Asep Setiawan menilai kerja jurnalistik tidak mesti terpaku pada narasumber utama atau yang paling dicari. Banyak narasumber serta cara lain untuk mengejar informasi yang dibutuhkan.

"Banyak akal, tidak langsung patah semangat," ujar Asep dalam program Crosscheck #FromHome by Medcom.id bertajuk 'Bangku Kosong Najwa, Apa yang Salah?', Minggu (11/10).

Asep menuturkan, bila narasumber menolak atau keberatan diwawancara, sang wartawan mesti mencari cara lewat jalur lain. Ia mencontohkan seperti melalui dirjen atau humas.

Baca juga: Relawan Jokowi Ngotot Wawancara Najwa bukan Produk Jurnalistik

Jika narasumber utama tidak mampu diperoleh, bisa dikejar narasumber lain yang mampu menjawab isu yang dicari tersebut.

"Dalam kegiatan pers, tidak mendapatkan sumber A1 maka dia harus mencari sumber A2," imbuh Asep.

Kemudian, cara lain yang bisa ditempuh ialah mengejar narasumber dengan wawancara dadakan. Wawancara yang dimaksud misalnya sang narasumber ditemui usai menggelar acara atau sebagainya.

"Wawancara dadakan di luar gedung, langsung didatangi," ujar Asep.

Sebelumnya, Relawan Jokowi Bersatu mempermasalahkan wawancara yang dilakukan jurnalis Najwa Shihab dengan kursi kosong. Wawancara Najwa dengan kursi kosong mestinya diisi oleh Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto.

Ketua Umum Relawan Jokowi Bersatu Silvia Devi Soembarto menilai wawancara tersebut bukan produk jurnalistik. Wawancara dinilai terlalu memaksakan Terawan untuk hadir.

"Seolah-olah dokter Terawan harus wajib datang. Beliau ini adalah Menteri Kesehatan Republik Indonesia, bukan menteri kesehatan Mata Najwa," ucap Silvia. (OL-1)

BERITA TERKAIT