11 October 2020, 11:10 WIB

Para Penjaga Anak Telantar di Lembata


Alexander P Taum | Nusantara

NASIB anak-anak yang ditelantarkan orangtua mereka, membuat LSM Peduli Perempuan dan Anak Lembata (Permata) Nusa Tenggara Timur, bergerak. Kebanyakan kasus penelantaran terjadi karena anak-anak itu mengalami kehamilan di luar pernikahan.

"Peran serta masyarakat dan pemerintah desa sangat penting dalam  mengatasi dampak buruk dari penelantaran anak. Mereka bisa berperan jika melihat anak-anak berada di luar rumah pada larut malam, harus ditegur dan dikembalikan ke rumah,' kata relawan LSM Permata Adriana Banguhari.

Tahun ini, sebanyak 28 anak di Lembata menjadi korban penelantaran. Anak perempuan sebanyak 12 dan laki-laki sebanyak 16 anak. Jumlah ini meningkat dari 2019 sebanyak 9 kasus.

Direktris LSM Pertama, Maria Loka, memastikan masih banyak kasus penelantaran anak yang tidak terdata. "Peningkatan kasusnya dipicu persoalan ekonomi serta kegagalan berumah tangga pasangan suami
dan istri. Ada juga karena orangtuanya merantau. Faktor-faktor penyebab itu akan berdampak sangat buruk untuk anak."

Akibat penelantaran tersebut, hak-hak anak tidak bisa terpenuhi. Di antaranya tidak mempunyai akta kelahiran, dan tidak dapat mengakses pendidikan dengan baik.

"Akibat yang paling buruk itu anak alami kekerasan seksual, bahkan jadi
pelaku kekerasan," tambahnya. (N-3)

BERITA TERKAIT