11 October 2020, 11:10 WIB

DI Gunungkidul, Babe Optimistis Raih 55%


Agus Utantoro | Nusantara

 

MESKI di tengah pandemi, situasi politik di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, membuat kepala banyak warga menghangat. Para kandidat calon bupati-wakil bupati terus bersolek di masa kampanye.

Persaingan juga membuat Kelompok relawan pendukung pasangan Bambang Wisnu Handoyo-Benyamin Sudarmadi (BaBe) bergairah. Mereka bertekad memenangkan pilkada Gunungkidul dengan prosentase raihan suara hingga 55%.

Koordinator Relawan Babe, Dadang Iskandar mengatakan para relawan terus bergerak dan memperluas jaringan hingga ke tingkat yang paling bawah. Relawan Babe saat ini sudah memiliki jaringan di seluruh wilayah kapanewon di Gunungkidul.

"Kami telah memiliki jaringan di 18 kapanewon. Tercatat sudah lebih 40.000 orang yang tergabung dalam jaringan kami," tambahnya.

Ia menyebutkan, relawan ini menyebar  mulai dari petani, pedagang pasar, nelayan, seniman hingga kelompok milenial. Mereka telah bersepakat siap mendukung pasangan Bambang Wisnu Handoyo-Benyamin Sudarmadi memenangi pilkada dalam satu putaran.

"Relawan BaBe siap memenangkan pasangan Bambang Wisnu Handoyo – Benyamin Sudarmadi. Tidak ada kata lain selain sapu bersih dalam satu putaran," tandas Dadang.

Menurut dia pasangan yang diusung PDI Perjuangan ini memiliki visi dan misi yang nyata untuk Kabupaten Gunungkidul. Keduanya dinilai mampu menjawab tantangan untuk memajukan Gunungkidul.

Bambang Wisnu Handoyo memiliki latar belakang birokrat, sedangkan Benyamin Sudarmadi dikenal sebagai pengusaha. Mereka pasangan ideal yang akan bersinergi untuk kabupaten ini.

Menurut Dadang, Relawan BaBe akan memperkuat aksinya di Kapanewon
Playen, Kapanewon Wonosari dan Kapanewon Semanu dan menetapkan tiga
kapanewon ini sebagai lumbung suara. Namun,  15 kapanewon lainnya tidak ditinggalkan.

"Kami tetap bergerak di 18 kapanewon. Tapi untuk tiga kapanewon ini kami lebih intensif," tegasnya.

Model kampanye yang dilakukan oleh Relawan BaBe ialah dengan model gethok tular atau dari mulut ke mulut. Selain itu juga melakukannya dengan menggunakan berbagai platform digital.

"Ini untuk membidik pemilih pemula dan muda. Mereka sangat akrab
dengan berbagai model termasuk melalui digital," pungkas Dadang. (N-3)

BERITA TERKAIT