11 October 2020, 09:52 WIB

Pertama di Indonesia, PKK NTT Raih Sertifikat ISO 9001:2015


Palce Amalo | Nusantara

ORGANISASI kemasyarakatan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi yang pertama di Indonesia untuk meraih sertifikat manajemen mutu ISO 9001:2015.

Ketua Tim Penggerak PKK NTT Julie Sutrisno Laiskodat mengatakan PKK NTT meraih nilai tertinggi inovasi dalam Indeks Government Awards yang digelar Kementerian Dalam Negeri.

"Selama ini, belum ada PKK di Indonesia yang ter-ISO, baru PPK NTT," katanya di Kupang, Minggu (11/10).

Baca juga: Pembangunan Tol BIY Memasuki Tahap Pembebasan Lahan

Menurutnya, sertifikat sudah diterima sejak 12 September 2020. Hasil yang diraih PKK NTT tersebut terkait dengan terobosan dan inovasi yang dilakukan sejak dua tahun terakhir untuk memberdayakan perempuan di desa untuk turut berpartisipasi dalam pembangunan.

Inovasi yang dilakukan ialah membentuk desa dan kelurahan model di seluruh kabupaten dan kota.

Di setiap desa dan kelurahan model, PKK membina karang taruna untuk membuat tempat sampah yang ditempatkan di setiap rumah penduduk.

"PKK sosialisasi mama-mama kalau buang sampah, tidak usah buang jauh-jauh, taruh di bak sampah saja," kata anggota DPR dari Fraksi Partai NasDem tersebut.

Setiap hari, karang taruna akan memunggut sampah di setiap rumah untuk dikumpulkan di satu tempat menjadi bank sampah. Dari pekerjaan ini, setiap karang taruna menerima honor sebesar Rp2 juta per bulan.

"Anak-anak muda di desa yang biasanya nongkrong dan mabuk-mabukan, kami buatkan lapangan olahraga," ujarnya.

Dari fasilitas tersebut, para anak-anak muda bisa menggelar kegiatan olahraga dan perlombaan, sekaligus mencari bibit-bibit pemain di berbagai kegiatan olahraga seperti sepak bola dan atletik.

"Untuk kegiatan perlombaan, kami sponsori  hadiahnya," ujarnya.

PKK juga membuka sanggar budaya untuk mempertahankan dan melestarikan budaya masyarakat setempat seperti tarian, bahasa daerah, dan juga motif-motif tenun ikat.

Menurutnya, di saat ini, di setiap desa model sudah ada sanggar budaya, sudah dilengkapi dengan peralatan seperti gong dan keyboard, siap tampil di berbagai kegiatan di lokal hingga nasional.

"Saat ini, NTT punya 137 motif tenun ikat yang harus kita pertahankan," jelas dia.

Menurutnya, pemberdayaan tidak hanya terbatas pada pemuda dan pemudi, tetapi juga para lansia di desa model tersebut seperti peralatan untuk menenun.

Bagi Julie Laiskodat, NTT tidak boleh mempromosikan keindahan alam, laut dan pantai saja, tetapi juga budaya yang memiliki potensi yang luar biasa.

Selain itu, di setiap desa dan kelurahan model, PKK merekut satu pasangan pemuda berusia di bawah 25 tahun yang bertugas mengerjakan, mengawasi serta melaporkan seluruh kegiatan inovasi PKK di desa tersebut, masing-masing menerima honor sebesar Rp2 juta per bulan.

Menurutnya, dua orang tersebut telah diperkuat pengetahuan yang memadai seperti kemampuan berkomunikasi dalam Bahasa Inggris.

"Sebelum mereka bekerja, kami kirim ke Kampung Inggris di Kediri selama tiga bulan untuk belajar Bahasa Inggris," jelasnya.

Masih ada sejumlah inovasi PPK antara lain pengembangan potensi anak dan remaja melalui warung bakat dan minat, pengadaan sarana dan prasarana bagi anak-anakk pendidikan anak usia dini (PAUD). Untuk kegiatan ini, PKK sudah melahirkan 24 PAUD terakreditasi.

Selanjutnya, pemberdayaan kelompok remaja putri, peningkatan ekonomi keluarga, serta pemberian makanan tambahan untuk mencegah stunting dan gizi buruk. (OL-1)

BERITA TERKAIT