11 October 2020, 02:39 WIB

Atasi Depresi di Masa Pandemi


Suryani Wandari Pertiwi | Humaniora

PANDEMI covid-19 ternyata memunculkan masalah baru, termasuk memengaruhi kondisi kesehatan jiwa dan psikososial orang. Meski sejauh ini belum terdapat ulasan sistematis tentang dampak covid-19 terhadap kesehatan jiwa, sejumlah penelitian terkait pandemi menunjukkan ada dampak negatif terhadap kesehatan mental penderitanya.

Berdasarkan data Tim Sinergi Mahdata UI Tanggap Covid-19, 35% dari 3.388 responden, misalnya, menunjukkan gejala depresi. Tak hanya itu, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa DKI Jakarta, Nova Riyanti Yusuf, mengungkapkan, berdasarkan swaperiksa yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, dari 4.010 responden, 64,8% mengalami masalah psikologis.

Dia menambahkan, bahkan satu dari lima orang memiliki pemikiran lebih baik mati dan pemikiran kematian terbanyak terdapat pada 18-29 tahun. Hal ini, menurutnya, membuat pencegahan bunuh diri urgen untuk dilakukan.

Dari penelitiannya, risiko ide bunuh diri itu patut menjadi alarm kehati-hatian, terutama di masa pandemi.

Ia kemudian menyarankan pemerintah untuk mencontoh inisiatif negara lain seperti Kamerun yang menggunakan bantuan teknologi. “Di sana siapa pun yang mendapat hasil pemeriksaan positif akan menerima dukungan psikologis melalui pesan pendek dan whatsapp,” katanya.

Sementara itu, mantan Direktur Pengendalian dan Pencegahan Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Kementerian Kesehatan, Fidiansjah, mengungkapkan Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan buku Pedoman Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial dalam pandemi ini.

Pedoman DKJPS ini dapat menjadi acuan pemerintah pusat dan daerah dalam mengambil langkah sistematis dalam pencegahan, penanganan, serta melakukan langkah tindak lanjut di bidang kesehatan jiwa dan psikososial dalam pandemi covid-19.

Tingkatkan kemampuan

Pengalaman terpukul akibat kehilangan pekerjaan saat pandemi dialami banyak orang. Sebagian dari mereka lalu mencari solusi positif agar keluar dari masalah. Riana Septiyani, 24, misalnya memilih meningkatkan kemampuan di bidang menulis dan digital. “Jadi, saya belajar lagi lewat webinar untuk mendalami bagaimana mengasah kemampuan menjadi content writer,” ujarnya.

Sementara itu, Bintang Bimaputra, 26, memilih membuat alternatif bisnis setelah penghasilan dari situs jual beli ikan dan hasil laut daring, Nalayan.id miliknya anjlok. “Selain menjual secara daring, kami juga memberanikan diri menjadi ritel,” ungkapnya.

Stres juga dialami sejumlah orang- tua karena anak-anak mereka melakukan kegiatan belajar dari rumah di masa pandemi. Sipta Meylina yang menjadi ibu dari tiga anak menuturkan peran keluarga sangat penting dalam membantu dirinya menghadapi masa pandemi. Selama pembelajaran jarak jauh, semua anggota keluarga ikut terlibat dalam mengasuh dan menemani anak belajar.

Selain itu, Sipta mengaku terus menjalin komunikasi dengan pihak sekolah agar memahami pola pembelajaran yang dilakukan dan apa saja yang perlu disiapkan. Dia juga membatasi penggunaan gawai pada anak untuk meminimalisasi ketergantungan. “Kami berusaha mencari bahan ajar dan bahan praktik alternatif yang bisa dilakukan di rumah, kemudian lebih sering melibatkan anak beraktivitas dan melakukan hobi sebagai penyeimbang,” jelasnya. (Hld/Ykb/Aiw/X-11)

BERITA TERKAIT