11 October 2020, 03:45 WIB

Muhammad Eghal Ruang Ikonik yang Terjangkau Semua Kalangan


Bagus Pradana | Weekend

ANDA mungkin sudah pernah membaca soal dua rumah mungil berdesain minimalis modern yang terletak di permukiman padat di Cipulir, Jakarta Selatan. Meski di lokasi padat, rumah dengan fasad beton ekspos itu terlihat nyaman dan cantik hingga viral di jagat maya. Rumah bernama The Twins itu bahkan pertengahan September lalu memenangi penghargaan dari ajang bergengsi Architizer Awards yang berbasis di New York, Amerika Serikat.

Sosok di belakang karya mendunia itu ialah Muhammad Egha, pendiri sekaligus arsitek Delution Company. Lewat perusahaan yang ia dirikan bersama dua orang rekannya, Hezby Ryandi dan Sunjaya Askaria, itu telah meraih beragam penghargaan. Selain penghargaan dari Architizer, ia juga sudah mengantongi A+Awards 2017, New York, dan Architecture Masterprize 2018, Los Angeles, untuk kategori rumah kecil, Flick House di Architecture Masterprice 2019, Spanyol, untuk kategori arsitektur hijau, serta Desain BBDO Indonesia yang dinobatkan sebagai kantor dengan desain interior terbaik di Asia Pacifi c Best Design of the Year IIDA (International Interior Design Association), Hong Kong, dan German Design Award di Frankfurt pada 2016.

“Yang paling membanggakan adalah ketika kita jadi juara di Hong Kong karena waktu itu kita satu-satunya perwakilan dari Indonesia. Jadi, kita menang dari banyak desainer di seluruh Asia Pasifik, termasuk dari Chicago, Meksiko, Taiwan, dan Jepang,” aku pria 29 tahun itu.

Hadir sebagai narasumber Kick Andy episode yang tayang hari ini, Egha menuturkan jika perjalanan bisnisnya tidak mudah. Terlebih, usaha konstruksi umumnya sangat memperhitungkan jam terbang sehingga pada awalnya kerap sulit meraih kepercayaan klien.

“Awalnya tentu tidak semudah yang dibayangkan, usaha kita cukup gambling waktu itu karena enggak ada anak umur 23 tahun sukses di usaha kontrusksi bangunan saat itu. Dalam usaha ini biasanya memerlukan jam terbang yang tinggi, jadi kami dipandang sebelah mata saat itu,” papar Egha yang mendirikan Delution pada 2013.

Meski jatuh-bangun, Egha menjelaskan, ia dan rekan-rekannya tetap berkomitmen dengan prinsip desain mereka yang bisa dijangkau semua kalangan. “Yang jelas kita mempunyai tujuan, yaitu menciptakan ruang ikonik yang bisa dijangkau semua kalangan, mulai kalangan menengah hingga kalangan ke bawah,” pungkasnya. (Bus/M-1)

BERITA TERKAIT