11 October 2020, 03:35 WIB

Inovator Muda Mendunia


Bagus Pradana | Weekend

INDONESIA terbukti tidak pernah kekurangan para inovator muda. Teknologi ataupun desain yang mereka ciptakan mampu membawa perubahan signifi kan dan telah diakui di tingkat dunia.

Contohnya ialah teknologi perikanan berbasis internet of things (IoT) yang dibuat lima alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM). Mereka ialah Azellia Alma Shafira (manajemen 2016), Fajar Sidik (teknik mesin 2012), Fakhrudin Hary Santoso (perikanan 2015), Lakshita Aliva Zein (perikanan 2016), dan Muhammad Adlan Hawari (elektronika dan instrumentasi 2015).

Berkeinginan untuk menggenjot produktivitas sektor perikanan, mereka membuat teknologi yang mampu mempercepat pertumbuhan ikan di dalam kolam dengan menambahkan kadar oksigen dalam air melalui produk microbubble generator yang mereka desain. Mereka menamakan teknologi itu Banoo.

“Jadi, Banoo ini bermula dari pengembangan riset yang dilakukan Fajar. Awalnya ia mengembangkan alat yang ia ciptakan dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip dalam teknik mesin, yang ia praktikkan pada sektor perikanan. Kemudian, risetnya berlanjut dengan beberapa dosen, bahkan hingga dibawa ke beberapa perlombaan teknik dan menang. Mulailah Fajar mencari tim,” papar Azellia atau yang akrab disapa Selly saat menjadi narasumber Kick Andy episode Pemuda Mengguncang Dunia yang tayang hari ini.

Selly menjelaskan, menggunakan sumber energi tenaga surya sehingga dapat menghemat listrik dan juga cocok di daerah-daerah yang belum teraliri listrik. “ Generator Banoo mampu meningkatkan jumlah oksigen yang terlarut dalam air sehingga pertumbuhan ikan bisa meningkat hingga 40%. Selain itu, masa panen ikan pun menjadi lebih pendek menjadi tiga bulan saja,” ungkap perempuan berusia 22 tahun itu.

Desain Banoo pun dikatakan sudah memperhitungkan area kolam yang umumnya minim oksigen. Dengan begitu, Banoo didesain dapat ditempatkan di mana saja.

“Kadar oksigen yang paling kritis itu di dasar kolam karena tidak terkena paparan sinar matahari. Untuk mengatasi masalah tersebut, aerator (microbubble generator) kami sebenarnya bisa dipasang di mana saja, mau di tengah, atas, atau bahkan bawah kolam. Untuk pengoperasian, alat ini tidak membutuhkan jaringan internet langsung karena listrik telah mereka dapatkan dari panel surya,” jelas Selly yang juga merupakan salah satu CEO dari startup teknologi di sektor perikanan, Banoo.

Oksigen yang disalurkan Banoo disebut mampu mengaliri seluruh bagian kolam. Alat ini pun dilengkapi sensor pengoperasian otomatis yang langsung berhubungan dengan internet.

Inovasi tersebut juga sudah mendapat pengakuan dunia internasional, yakni di ajang Cisco Global Problem Solver Challenge 2019. Di ajang yang dibuat perusahaan teknologi Amerika Serikat, Cisco, Banoo meraih gelar juara.

Baru-baru ini Banoo kembali menorehkan prestasi dengan berhasil lolos menjadi fi nalis MIT Solve Sustainable Food Systems Challenge 2020 menyisihkan 2.600 pendaftar dari 135 negara.


Pengembangan

Tahun ini, Banoo berencana mengembangkan sebuah platform aplikasi yang dapat dimanfaatkan para peternak di Indonesia. Nantinya melalui fitur remote MBG controller ini para peternak ikan yang telah bermitra dengan Banoo dapat menghidupkan ataupun mematikan microbubble generator langsung dari ponsel. Fitur juga memungkinkan para pengguna Banoo memonitor kolam-kolam ikan mereka setiap saat dan menadapatkan informasi terkini seputar harga pasaran ikan tiap harinya.

Tidak hanya itu, tim Banoo juga sedang mengembangkan berbagai inovasi untuk sektor perikanan air asin dan payau. “Teknologi tepat guna ini murah dan telah diuji coba di pertanian air tawar, kami juga sedang mengembangkan produk microbubble generator (MBG) untuk perikanan air asin dan air payau,” pungkas Selly. (M-1)

BERITA TERKAIT