11 October 2020, 03:30 WIB

Kopi Giling Basah dengan Semburat Rasa Pedas


Galih Agus Saputra | Weekend

INDONESIA sudah dikenal sebagai salah satu produsen kopi terbaik di dunia. Meski begitu, masih banyak proses pengolahan khas lokal yang belum tergali.

Salah satunya ialah proses pengolahan kopi arabika dengan metode giling basah (wet-hulled) yang dilakukan para petani di dataran tinggi Gayo, Provinsi Aceh. Proses giling basah dimulai dari tahap mengeluarkan ceri atau biji dan kulit (parchment) kopi saat masih dalam keadaan basah. Tujuannya ialah untuk memberikan saluran udara agar masuk sehingga proses pengeringan menjadi semakin mudah.

Selanjutnya, petani akan menyimpan biji kopi selama 3 tahun dengan tujuan agar proses pelembaban hingga pengeringan biji kopi terjadi secara alami. Pengemasan untuk penyimpanan itu dilakukan dengan hati-hati. Tiap tiga bulan sekali petani akan membuka kemasan untuk mengecek kualitas pengeringan kopi.

Kopi dengan proses giling basah itulah yang kini dihadirkan oleh produsen kopi premium, Nespresso, lewat varian Master Origin Aged Sumatra. Dalam konferensi pers daring yang berlansung pada Kamis (8/10), Coffee Master Nespresso Indonesia, Febi Amelia mengungkapkan metode giling basah menghasilkan profil kopi yang khas dan unik.

Citarasa yang ditawarkan kepada para penikmat dari varian ini ialah sedikit pedas (spicy) dengan tekstur yang lembut. Ada juga perpaduan yang cukup kompleks antara cokelat dan karamel.

Selain menghadirkan Master Origin Aged Sumatra, kali ini Nespresso juga menghadirkan Master Origin Aged Indonesia. Produk yang satu ini juga masih arabika, hanya ia diambil dari gabungan para petani di Sumatra Utara dan Jawa Barat atau lebih tepatnya Bandung.

Marketing Manager Nespresso Indonesia, Bianca Febriani, menambahkan varian yang dirilis kali ini telah menjadi permanent range dari Nespresso Indonesia atau yang artinya akan selalu tersedia bagi para penikmat kopi. Keahlian para petani Nusantara dalam mengolah biji kopi ingin ditonjolkan lantaran hal ini merupakan suatu proses pengolahan yang patut dibanggakan.

Nespresso Sustainable Operations Project Mangager, Manu Jidal, menjelaskan, hingga saat ini, sudah ada 1.000 petani di Jawa Barat yang turut memproduksi kopi ini, sedangkan di Sumatra jumlahnya mencapai lebih dari 2.000 petani kopi.

“Dari program sustainable, yang paling penting ialah programnya berkelanjutan, kualitas dari produk yang dihasilkan, dari biji kopi hingga yang siap dikonsumsi pelanggan, dihasilkan dari para petani. Itu pesan yang paling penting,” pungkasnya. (Gas/M-1)

BERITA TERKAIT