11 October 2020, 04:15 WIB

Cara Lain Berkesenian


Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Weekend

SEJAK tiga bulan terakhir, saya jadi sering nonton  Youtube, tapi bukan gosip atau talk-show politik. Berat dan membosankan. Apalagi, di zaman pandemi yang melelahkan. Saya butuh hiburan, bukan nyinyiran. Makanya, yang saya tonton itu kalau engggak stand up comedy, ya konten-konten ringan seputar musik.

Setiap Minggu malam, saya kini bahkan jadi ‘jemaah’ tetap salah satu akun milik sebuah perusahaan soundsystem dan label rekaman. Soalnya, di situ rutin digelar konser virtual dari musikus lokal.Temanya asyik. Kadang mereka khusus membawakan repertoar The Beatles, kadang Genesis. Gonta-ganti.

Minggu malam pekan lalu, misalnya, temanya lagu-lagu hasil Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) yang pernah digelar radio Prambors di akhir 1970-an. Penyanyi yang tampil, antara lain Berlian dan Louis Hutahuruk yang memang pernah ikut kontes tersebut. Selebihnya generasi sesudah mereka, Ikang Fawzi, Andy Rif, dan Aryo Wahab.  Mereka tampil tidak berdesakan di satu panggung, tetapi di sejumlah ruang berbeda. Jadi pertunjukan ini tetap mematuhi protokol kesehatan.

Mungkin karena temanya menarik ditambah suguhan visual dan audionya aduhai, penontonnya malam itu mencapai ribuan, mungkin kalau dikumpulkan bisa sepertiga kapasitas Istora Senayan. Sebagian dari mereka ialah generasi yang tumbuh remaja di era 1980-an. Di antara penonton itu, ada mantan Menteri Keuangan Chatib Basri, mantan Menpora Adhyaksa Dault, penyanyi Tika Bisono, hingga wartawan senior Leila Chudori.

Kami, para penonton ini, tidak perlu repot-repot terjebak kemacetan, bayar parkir, atau beli tiket. Cukup berdonasi yang dananya kelak digunakan membantu para pelaku seni yang terdampak pandemi. Kami juga enggak usah repot-repot mandi atau dandan, cukup bercelana pendek, sarungan, atau dasteran. Nontonnya pun bisa bergeletakan di mana saja, di kamar tidur atau di beranda, sembari bercanda dan saling menyapa di ruang percakapan (chat room). Begitulah teknologi memanjakan kita.

Seniman Tiongkok, Pete Jiadong Qiang bilang, pameran atau pertunjukan daring semacam ini akan memiliki tempat di masa depan dan pandemi ini mempercepat prosesnya. Qiang ialah seniman pertama di masa wabah korona yang menggelar pameran virtual di Beijing, pada Maret lalu.

Sejak pandemi covid-19 menjalar, sebagian besar pemerintahan di seluruh dunia menitahkan untuk menghindari kerumunan. Akibatnya, galeri, bioskop, gedung konser, maupun panggung pertunjukan sepi, bahkan tutup. Seniman atau pelaku seni pun terpukul. Namun, itu tidak berarti mematikan kreativitas mereka. Banyak institusi dan pelaku seni memanfaatkan medium internet agar tetap bisa berkarya. Salah satu artikel di Artsy.net, pertengahan Maret lalu menyebut, tren ini sebetulnya tidak hanya muncul lantaran wabah virus korona. 

Google Arts & Culture, selama bertahun-tahun telah menyusun dan menyiapkan tur virtual museum di seluruh dunia. Dengan Google Arts & Culture, kita dapat mengunjungi lebih dari 500 institusi seni di seluruh dunia, seperti Guggenheim, Galeri Nasional London, Musee d’Orsay di Paris, Rijksmuseum Amsterdam, dan banyak lainnya.

Di tengah kebosanan lantaran terpenjara di rumah, pameran atau pertunjukan daring tampaknya memang bisa menjadi pilihan. Tidak cuma musik dan teater. Bulan lalu, Asosiasi Pematung Jakarta juga menggelar pameran serupa. Begitu pun beberapa pameran seni lainnya, telah digelar virtual di beberapa kota.

Museum, gedung konser, dan panggung pertunjukan, mungkin tutup dan kita semua diwajibkan menjaga jarak. Namun, keindahan teknologi dan media sosial (yang tidak selalu indah) dapat menghadirkan semua hiburan itu ke rumah. Kini, seniman atau siapa pun, bahkan dapat berkarya dari mana saja dan menyiarkannya ke penjuru dunia. Kita, penonton sekaligus menjadi pelaku seni.

Pandemi ini memang telah mengajarkan kita banyak hal. Selain pentingnya menjaga kebersihan, ia seolah mengingatkan kita lagi bahwa hakikat seni itu sejatinya memang soal udar rasa. Tentang bagaimana kita harus minum wine dan menyasak rambut kala mengunjungi pameran lukisan atau pakai kostum tertentu di area pertunjukan, itu kan cuma kibul rekayasa juragan hiburan.
 

BERITA TERKAIT