11 October 2020, 01:45 WIB

Modernisasi Desa


Ono Sarwono Penyuka wayang | Weekend

GARENG rengeng-rengeng (menembang lirih) mengikuti alunan gending Modernisasi Desa yang terdengar dari aplikasi youtube di ponselnya. 

Tidak hanya sekali, ia menikmati dengan mendengarkannya berulang kali dan tampak mencerna makna setiap liriknya. Petruk memperhatikannya dengan saksama sambil sesekali tersenyum. 

Sementara itu, Bagong sibuk dengan gawainya sendiri seolah tidak peduli sekitarnya. Mereka bertiga sedang bersantai di atas lincak di depan rumah bapaknya, Semar Badranaya, di Dusun Klampisireng.

Belum lama, anak-anak Semar itu mendapat ‘mainan baru’ berupa ponsel pintar dari bendaranya, Arjuna. Pemberian itu merupakan bagian dari ungkapan rasa syukur penengah Pandawa itu setelah berhasil sebagai duta dewa membersihkan Kahyangan dari jamahan begundal raksasa bernama Newatakawaca.

Menjadi agenda rutin, Gareng, Petruk, dan Bagong jagongan (mengobrol) di rumah orangtua mereka pada setiap Minggu. Karena ‘jabatan’ sebagai panakawan dan pamongnya Pandawa, mereka kerap rasanrasan (membicarakan) mengenai kebijakan dan atau situasi serta kondisi Negara Amarta.

“Tumben kang, mendengarkan tembang Modernisasi Desa. Berulang-ulang lagi,” tanya Petruk memecah suasana sepi pagi menjelang siang hari yang sejuk.

“Iya le (dik). Ini tembang lama, tapi rasa-rasanya konteks sama dengan situasi sekarang,” jawab Gareng.

Bagong tiba-tiba menghentikan jari-jarinya yang semula menjelajahi layar smartphone-nya. Ia menoleh ke Gareng dengan mimik tanda tanya. Namun, tidak ada sepatah kata yang terucap.

Lalu ia kembali berselancar di ponselnya.

“Maksudnya apa kang?” lanjut Petruk.

Gareng mengatakan bahwa pemerintah saat ini sedang menggencarkan perhatiannya ke desa. Di antaranya dengan melakukan reformasi mengenai strategi besar dalam transformasi ekonomi desa. 

Perdesaan disebutsebut sebagai penyangga ekonomiakibat dampak pagebluk saat ini. “Isu-isu seperti itu sudah lama. Faktanya, sampai sekarang desa nggak maju-maju, warganya tetep melarat,” nyinyir Bagong sambil menyeruput teh tubruk. 

Tersedia sebagai teman ngobrol hari itu talas goreng serta pisang tanduk rebus. Rancangan memajukan desa memang sudah lama dicanangkan. Sampai-sampai dahulu dibuatkan tembang berjudul Modernisasi Desa sebagai bagian untuk menggelorakan program tersebut.

Tembang itu diciptakan KRT Wasitodipuro bersama dalang sekaligus komposer karawitan Ki Narto Sabdo. Adapun liriknya adalah sebagai berikut:

Ayo… ayo kanca tilingena
kanca piyarsakna, enggal
katindakna
Desa kuwi wit kuna wis mesti tansah
dadi obyek ning saiki ganti
Modernisasi desa, ya tegese kuwi ca
Kudu tansah dadi subyek melu
nemtokake
Ing bab politik ekonomi lan sosial
Lan kabudayan duwe oto aktifitas
Mrih kang tundhane kanggo
mbrantas pengangguran
Modernisasi desa, modernisasi desa
Sa-Indonesia
(Ayo… ayo kawan dengarkan
Kawan perhatikan, cepat
laksanakan
Desa itu sejak dulu memang selalu
menjadi objek, tetapi sekarang
berganti
Modernisasi desa, ya itulah
maksudnya kawan
Harus selalu jadi subjek ikut
menentukan
Dalam bidang politik, ekonomi dan
sosial
Dan kebudayaan punya aktivitas
mandiri
Agar pada akhirnya dapat
memberantas pengangguran
Modernisasi desa, modernisasi desa
se-Indonesia).

“Petruk, kamu kan wasis (pintar). Coba jelaskan makna tembang itu, le,” pinta Gareng.

“Tembangnya kan sudah jelas ta kang. Desa harus berubah dari objek menjadi subjek yang menentukan, ya di bidang politik, ekonomi, sosial serta dengan budayanya. Kata lainnya, desa menjadi ‘sokoguru’ negara,” katanya.

“Kalau pendapatmu bagaimana Gong (Bagong),” tanya Petruk.

“Wiwit mbingek (sejak dulu), pembangunan desa itu sudah sering diomongkan, digaunggaungkan. Tapi, tidak diseriusi dan tidak berkelanjutan. Kini, itu malah kerap dijadikan komoditas politik,” tukas Bagong. 

Di antara anakanak Semar, hanya Bagong yang antibasa-basi, lugas, terbuka, dan apa adanya.

“Ah, yang benar Gong,” kejar Petruk.

“Nyatanya yang terus dimodernisasi itu kota, yang terus dipoles dan dielus-elus kota. Desa tidak digagas, kurang diperhatikan. Desa seperti sudah menjadi kodratnya, selamanya terbelakang,” paparnya.

“Jangan ngelantur, Gong. Selama ini kan ada kementerian desa dan pembangunan daerah tertinggal. Banyak program yang telah dilaksanakan,” kata Gareng dengan nada agak meninggi.

“Mbelgedhes,” lanjut Bagong. 

Ia memberikan contoh petani padi. Sejak dulu, petani mengatasi sendiri semua persoalannya. Dari pembibitan, pengairan, pupuk langka saat musim tanam, serta tidak jelasnya harga ketika panen tiba.

“Itu hanya satu contoh saja,” ketusnya.

Menurut Petruk, program pembangunan ataupun pemberdayaan desa itu memang seharusnya permanen, tidak angin-anginan, tidak lips service. Negara mesti punya perhatian besar dan serius terhadap desa. 

Apalagi, mayoritas penduduk hidup dan tinggal di desa. Ia melanjutkan, apabila desa maju, negara (ekonomi) tidak gampang oleng ketika adaterpaan gangguan apa pun. Dalam sejarahnya, desa selalu menjadi basis dan ujung tombak perjuangan. Pun ketika bangsa dan negara setiap menghadapi masalah, kenyataannya desa menjadi katup pengaman.

“Ada yang lebih mendasar lagi kang, desa menjadi sumber ketersediaan pangan,” kata Bagong.

Terdengar Semar berdeham dari dalam rumah. Tidak lama kemudian ia muncul dari pintu depan. Tangan kanannya memegang muk berisi minuman jahe merah dan sereh dengan pemanis gula batu.

 “Ini lagi ngomongin apa le?" tanyanya. 

“Pemberdayaan desa, pak. Pemerintah akan semakin menyeriusi pembangunan desa,” jawab Petruk.

“Ya, syukur kalau itu memang benar adanya,” ujar Semar.

Selama ini, Semar dan anak-anaknya tinggal di dusun. Mereka hidup seadanya dan seperti tidak pernah disentuh negara. Ironisnya, panakawan itu selalu menjadi tumpuan penyelesaian setiap masalah momongannya. Setelah itu, mereka kembali terlupakan. (M-2)
 

BERITA TERKAIT