11 October 2020, 00:10 WIB

Bertekun Menjadi Peternak Milenial


Fathurrozak | Weekend

SEJAK awal Oktober ini, setiap pukul 08.00 WIB, Wahyu Jaelani sudah berada di lokasi peternakan milik Durwat, warga Gagasari, Gebang, Cirebon, Jawa Barat. 

Menyemprot satu kandang berdimensi panjang 42 meter dan lebar 8 meter itu menjadi rutinitas baru bagi Wahyu setiap pagi. Karena Durwat tidak memiliki pekerja, pekerjaan pembersihan kandang pun dilakukan hanya berdua. 

Membersihkan kandang itu baru selesai biasanya pukul 17.00 WIB. Wahyu baru saja lulus dari jurusan peternakan Universitas Hasanuddin Makassar pada Agustus silam. Sejak pertengahan September, kedatangannya ke Cirebon ialah untuk melakukan observasi lapangan sekaligus menjadi fasilitator peternak ayam broiler.

“Hari ini ada tiga kegiatan dan masih berlanjut dari tahap pembersihan kandang dari hari-hari sebelumnya. Selainmembersihkan kandang dengan menyemprot air dengan kompresor, yang juga dilakukan ialah pencucian alat minum dan alat pakan. 

Selanjutnya, proses penyemprotan disinfektan ke kandang. Pertama, penyemprotan dengan air bertekanan itu untuk membersihkan kandang dari feses yang sudah mengeras,” cerita Wahyu melalui sambungan telepon kepada Media Indonesia, Selasa (6/10).

Kandang peternakan ayam broiler yang Wahyu datangi saat ini tengah memasuki masa istirahat kandang. Artinya, kandang tengah kosong dan tidak diisi ayam ternak. Jeda ini menjadi waktu untuk melakukan pembersihan kandang setelah masa panen.

Kegiatan yang Wahyu lakukan itu merupakan bagian dari program Bertani untuk Negeri yang dicanangkan Japfa Foundation. Pada tahun ini, fokus program ini ialah pada peternakan rakyat.

Selain Wahyu, anak muda lain yang juga berkegiatan bersama peternak ayam di Cirebon ialah Martha Yousephine Girsang. Jika Wahyu berada di kandang yang tengah berada pada masa istirahat, kandang tempat Martha praktik justru tengah menunggu masa panen. 

Kondisi kandangnya juga berbeda. Di tempat Martha di Desa Ender, Pangenan, Cirebon, Jawa Barat, kandang ternaknya sudah menggunakan kandang tertutup (close house). Sementara itu, di tempat Wahyu masih menggunakan kandang terbuka.

Perbedaan model kandang ini juga akan memengaruhi proses beternak dan dampaknya pada lingkungan. Kandang tertutup dianggap lebih bisa mengakomodasi kebutuhan ayam ternak, termasuk menghindari stres sebab semua situasi bisa diatur, seperti kelembapan dan suhu.

Berbeda dengan kandang terbuka yang semuanya serba manual. Selain itu, kandang terbuka juga masih lebih mencemari lingkungan sekitar dengan buangan amonianya (gas dengan bau tajam) yang kurang terkendali.

“Saat hari pertama saya turun ke kandang peternakan, saya melihat dan mengamati kondisi ayam. Apakah sirkulasi udaranya baik atau tidak. Lalu, kalau misal ayamnya kepanasan itu ada tindakan seperti apa. Jadi saya mengamati dan mengikuti dulu yang menjadi kebiasaan peternak, termasuk membantu memberi pakan,” kata Martha saat dihubungi, Selasa (6/10).

Sebagai lulusan ilmu dan industri peternakan, Martha bukan sekali ini bersinggungan dengan hewan ternak. Sebelumnya, saat masih kuliah dirinya juga sudah akrab dengan beberapa jenis ternak. Misalnya, saat praktik kerja lapangan di Dinas Pertanian Yogyakarta, dirinya bersinggungan dengan ternak sapi unggulan, mulai pemeliharaan, pemberian pakan, dan proses pengambilan sperma, hingga siap dipasarkan.

Selain itu, selama setahun ia juga pernah bersinggungan dengan unggas. Martha pernah meneliti keturunan bulu hasil persilangan ayam unggul dengan ayam layer (petelur). Dalam penelitian ini, fokusnya ialah pada pemuliaan jenis unggas.


Pemantapan pengetahuan

Selama setengah tahun, Wahyu dan Martha akan berada di peternakan rakyat di Cirebon. Ini dijadikan keduanya sebagai ajang pemantapan pengetahuan yang pernah mereka dapat semasa kuliah. 

Wahyu dan Martha ialah 2 dari ke-16 peserta dalam program pengabdian ke masyarakat. Kezia Naomi, yang belum lama wisuda dari jurusan peternakan Universitas Diponegoro (Undip) juga menjadi anak muda yang ikut dalam program ini. 

Seperti Martha, ia mendapat jatah untuk terjun di peternakan di Desa Ender. Total, ada 11 peternakan di dua desa yang menjadi subjek observasi anak-anak muda lulusan jurusan peternakan ini.

Enam peternakan di Gagasari, dan lima berada di Ender. “Peternak di Cirebon memiliki kemauan untuk mengembangkan usaha, mereka senang mendapatkan pendampingan langsung dari kami. Karena memiliki satu tujuan sama, enam bulan ke depan peserta maupun peternak akan saling mendukung,” kata Kezia, pada Selasa (6/10).

Seperti halnya Wahyu dan Martha, Kezia juga melakukan pendekatan ke peternak. Termasuk mendengarkan keluh kesah peternak, observasi peternakan ayam, dan analisis  kekurangan yang ditemukan, analisis biaya, memberikan saran, dan argumen. 

Ia juga mengatakan, hal yang tidak bisa dilakukan ialah memaksakan kehendak dan sebisa mungkin menjadi penghubung yang baik antara peternak dan perusahaan. Dari proses ini, Kezia pun menemukan perbedaan dengan yang dilakukannya saat kuliah.

“Bedanya dulu hanya di kandang praktikum. Hanya memegang ayam broiler dalam satu periode, itu pun satu kandang bisa dikelola 20 orang. Jadi kurang dapat ilmunya. Kalau sekarang satu kandang hanya dua orang ditambah satu orang kandang jadi tiga orang. Tugas kami fokus mengobservasi kesalahan dan kekurangan dari peternak ayam tersebut.”


Kelak juga beternak

Sebagai mahasiswa lulusan baru, menggali pengetahuan praktis juga penting. Setelah mendapat teorinya di perkuliahan, masa pengabdian ini bisa dijadikan sebagai ajang aplikasi ilmu dan memperkaya kemampuan dalam mengurus ternak.

Meski tidak secara spesifik bagaimana setelah program ini mereka akan menentukan karier, ketiganya tetap ingin bersentuhan dengan industri peternakan. Bahkan, Wahyu dan Martha memiliki harapan untuk memiliki peternakan sendiri.

“Jujur pengin banget punya peternakan sendiri. Mau itu nanti jenis ayam apa pun. Ini rencana 10 tahun ke depan sih, pengin buka peternakan di Sumatra Utara. Tapi kan butuh biaya, jadi kumpulin dulu,” ungkap Martha.

Di daerah asalnya di Seribu Dolok, Simalungun, ia hampir tidak menjumpai adanya peternakan ayam. Mayoritas penduduk di daerahnya ialah bertani.

“Ternyata peternakan tidak sejorok yang dibayangkan orang-orang, yang mungkin menganggapnya bau. Prospeknya ada,” kata Martha.

Begitu juga Wahyu, yang meski punya rencana untuk membuka peternakan, tetapi itu masih menjadi rencana jangka panjang. “Saya juga punya mimpi untuk buka usaha, di bidang perunggasan. Saya mau buka lapangan masyarakat di daerah saya di Kabupaten Maros,” katanya. Ia juga ingin melanjutkan studi dan bekerja di perusahaan industri peternakan terlebih dulu.

Adapun salah satu yang menjadi permasalahan di industri peternakan saat ini, menurut Wahyu, di antaranya pola pikir peternak. Rerata, peternakan masih dianggap sebagai pekerjaan sampingan. 

Padahal, menurutnya ini bisa menjadi sektor utama pendapatan. Ia berkaca dari peternakan yang dikelola Durwat, dalam sekali masa panen (sekitar 35 hari), bisa mengantongi bersih Rp15 juta.

Selain itu, menurutnya, regulasi pemerintah juga harus masuk lebih dalam ke lini peternakan untuk memberikan kebijakan yang memudahkan peternak. Misalnya, terkait dengan urusan permodalan. 

Saat ini untuk mendirikan peternakan seperti model close house, masih butuh biaya fantastis sehingga menurut Wahyu, akan sangat mustahil peternak kecil bisa mengakomodasi kebutuhan tersebut. Hal itu biasanya baru bisa dicapai setelah memasuki tahun kelima beternak. (M-2)
 


 

BERITA TERKAIT