10 October 2020, 05:40 WIB

Kekhawatiran yang semakin Bertambah


(Dmr/J-1) | Fokus

HASAN terlihat termenung saat dijumpai Senin (5/10) di sebuah musala yang dijadikan tempat pengungsian. Ia bersama puluhan warga RT 11/04, Kembangan Utara, Jakarta Barat, terpaksa mengungsi karena rumah mereka terendam air setinggi 80 cm sampai 1 meter.

Permukiman padat di bantaran Kali Pesanggrahan itu memang sejak tahun 2013 menjadi langganan banjir tiap kali hujan datang.

Hasan mengaku selalu khawatir bila musim penghujan datang. Namun, kekhawatiran Hasan kali ini semakin bertambah akibat pandemi covid-19 yang belum juga berakhir. Ia memiliki anak yang masih sangat kecil. Tempat pengungsian yang cukup sempit karena menampung banyak orang membuat protokol kesehatan pun terabaikan.

“Tidak hanya korona, penyakit lain kan juga sangat mungkin jika banjir melanda. Walaupun pakai masker, tetap dalam satu tempat ada banyak orang cukup menakutkan,” tutur Hasan.

Hal serupa dikatakan Rosa Junia Utami, warga Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara. Ia me nuturkan, jika banjir datang, rumahnya bisa terendam setinggi satu meter.

Meski dia tidak pernah mengungsi karena air di dalam rumahnya cepat surut, tetapi genangan di jalan depan rumahnya bisa bertahan 2-3 hari.

Keluarganya pun kesulit an keluar rumah untuk belanja kebutuhan. Rosa pun harus rela antre dengan warga lain di warung yang kebetulan buka. “Hari pertama tidak ada yang jual an, jadi makan seadanya, hari kedua sudah mulai ada yang jualan, tetapi tidak banyak kaya bia sanya. Dan itu cepet banget habisnya dan ngantri,” ungkapnya.

Namun, pandemi covid-19 ini membuat Rosa khawatir untuk keluar rumah. “Ta kut keluar untuk belanja karena kita tidak tahu berpapasan dengan siapa,” ujar nya.

Namun, tidak seluruh warga yang rumah nya langganan banjir menderita pada saat air menggenangi sebagian wilayah Jakarta, seperti warga yang tinggal di Cipinang Melayu, Jakarta Timur. Sodetan yang menghubungkan Kali Sunter dengan Waduk Tiu telah mampu meminimalkan banjir di kawasan itu.

“Alhamdulillah enggak banjir lagi kok sekarang sejak ada sodetan itu,” kata Septian, warga RW 12 Cipinang Melayu.

Septian mengatakan biasanya banjir di wilayah tersebut terjadi akibat luap an Kali Sunter saat terjadi hujan deras. Namun, pada saat hujan deras yang terjadi pada Sabtu (3/10) siang, Kali Sunter mengalami Siaga 2. “Biasanya kalau Siaga 2, air sudah masuk ke rumah, tetapi kali ini tidak,” ujarnya.

Pernyataan serupa juga diungkapkan Ketua RW 04 Cipinang Melayu Irwan Kurniadi. “Permukiman warga di RW 03 dan RW 04 yang biasanya terdampak banjir luap an Kali Sunter, sampai pagi tadi be bas banjir. Padahal, debitnya tinggi,” katanya.

Wali Kota Jakarta Timur M Anwar me ngatakan potensi banjir di Cipinang Melayu berhasil diminimalkan karena proyek sodetan Kali Sunter menuju Waduk Waduk Tiu di bagian hulu sungai, tepatnya di Kecamatan Cipayung telah se lesai dikerjakan. “Proyek normali sasi sodetan Kali Sunter ini sempat terhenti pada 2014,” katanya.

Proyek yang berjalan selama September 2020 itu dikerjakan sekitar 100 meter dengan lebar 2 meter yang berfungsi untuk mengurangi luapan Kali Sunter. M Anwar pun optimistis pengerjaan sodetan saluran yang menghubungkan Wa duk Pondok Ranggon dengan Kali Sun ter dapat meminimalkan banjir di tiga kawasan.

“Sodetan ini sedang kita kerjakan. Dampaknya sejumlah permukim an di bantaran Kali Sunter seperti Halim Per da nakusuma, Cipinang Melayu, dan Pu lo gadung bisa diatasi banjirnya,” katanya.

Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi DKI telah menyelesaikan pembuatan dua lokasi waduk di Kecamatan Pondok Ranggon dengan ukuran total 16,2 hektare. Waduk tersebut diprediksi sanggup menampung debit air hingga 210 ribu meter kubik (m3). “Waduk ini diharapkan menjadi baskom air saat kita buat sodetan dari Kali Sunter. Saya lihat Waduk ini besar dan sanggup menampung,” katanya.

Ia pun mengatakan proyek sodetan saluran air sebagai penghubung Kali Sunter dan Waduk Pondok Ranggon I sudah rampung 70%. (Dmr/J-1)

BERITA TERKAIT