10 October 2020, 05:15 WIB

BI Suntik Likuiditas Rp666 Triliun


(Des/E-3) | Ekonomi

BANK Indonesia (BI) sampai dengan awal Oktober 2020 telah melakukan pelonggaran moneter melalui instrumen quantitative easing (QE) dengan suntikan dana sebesar Rp666 triliun. Angka ini tercatat naik Rp4 triliun jika dibandingkan dengan total suntikan pada akhir September 2020 yang sebesar Rp662,1 triliun.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan likuiditas perbankan kini sudah lebih dari cukup.

Oleh karena itu, dia berharap penyaluran kredit dapat dipercepat.

“Kami tambah likuiditas (perbankan) Rp666 triliun. Jadi, untuk perbankan likuiditas sudah lebih dari cukup. Jadi, perbankan bisa (percepat) penyaluran kredit,” ungkap Perry dalam acara Hari Lahir Ke-9 Himpunan Pengusaha Nahdliyin secara daring, kemarin.

Perlu diketahui, injeksi likuiditas dilakukan melalui pembelian surat berharga nasional (SBN) dari pasar sekunder, penyediaan likuiditas ke perbankan dengan mekanisme termrepurchase agreement (repo), dan penurunan giro wajib minimum (GWM).

Berdasarkan data BI, bank sentral telah melakukan injeksi likuiditas pada Januari hingga April 2020 sebesar Rp419,9 triliun. Perinciannya, untuk pembelian SBN dari pasar sekunder sebesar Rp166,2 triliun, repo perbankan Rp160 triliun, FX swap Rp40,8 triliun, dan penurunan GWM rupiah Rp53 triliun.

Kemudian, pada Mei sampai September 2020 BI kembali melakukan injeksi likuiditas. Total suntikan dana sepanjang periode tersebut Rp242,2 triliun.

Suntikan likuiditas dilakukan dengan menurunkan GWM sekitar Rp102 triliun, tidak mewajibkan tambahan giro bagi yang tidak memenuhi rasio intermediasi makroprudensial (RIM) sebesar Rp15,8 triliun, serta repo perbankan dan FX swap sebesar Rp124,4 triliun.

Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan siap mendukung perubahan aturan pinjaman likuiditas jangka pendek (PLJP) bagi bank umum konvensional dan bank syariah yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI) pekan lalu dan berlaku sejak Selasa (29/9). (Des/E-3)

BERITA TERKAIT