10 October 2020, 03:40 WIB

Kampanye Ngawur Mewarnai Jawa Timur


(FL/AD/JS/RF/N-3) | Nusantara

KAMPANYE pilkada sudah berlangsung selama 14 hari. Catatan pelanggaran yang dikumpulkan Badan Pengawas Pemilu Jawa Timur sudah menghabiskan
puluhan lembar kertas.

“Pelanggaran terbanyak yang terjadi ialah soal ketidaktaatan pada protokol kesehatan. Banyak pelanggaran terjadi.

Hampir semua pasangan calon, tim kampanye, melakukan kampanye tatap muka yang dihadiri lebih dari 50 orang,” ungkap komisioner Bawaslu Aang Kunaifi , di Surabaya, kemarin.

Aang pun khawatir prediksi munculnya klaster pilkada bisa jadi kenyataan.

Karena itu, pihaknya sudah berkoordinasi dengan aparat kepolisian dan satgas covid-19 untuk melakukan antisipasi di masa kampanye berikutnya.

“Selain pelanggaran protokol kesehatan, Bawaslu juga menemukan pelanggaran keterlibatan ASN juga kepala desa dalam kampanye,” tambahnya.

Bawaslu Jatim mencatat ada 539 kampanye tatap muka yang digelar di 17 kabupaten dan kota. Hanya ada dua kabupaten dan kota yang tidak mengizinkan kampanye tatap muka.

Pelanggaran terjadi sebanyak 47 kali. Empat di antaranya terpaksa dibubarkan tim Bawaslu di lapangan.

Kabar kurang sedap juga datang dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Sampai kemarin, alat peraga kampanye masih betebaran di sejumlah lokasi terlarang.

Pemerhati pilkada, Deden Nurul Hidayat, menyesalkan kelalaian penyelenggara pilkada. “APK terbanyak diisi wajah petahana, di jalan dan kantor pemerintahan.”

Di Klaten, Jawa Tengah, Komisi Pemilihan Umum Daerah mulai menjajaki iklan kampanye bersama pegiat media massa. Mereka menggelar rapat koordinasi bersama Bawaslu dan aparatur pemerintah kabupaten.

“Rakor ini untuk menampung masukan dari media massa,” kata Ketua KPUD Kartika Sari Handayani. (FL/AD/JS/RF/N-3)

BERITA TERKAIT