10 October 2020, 03:35 WIB

Setelah Demo Terbitlah Bencana


NURUL HIDAYAH | Nusantara

KEKHAWATIRAN bahwa unjuk rasa di masa pandemi tidak membawa maslahat, mulai jadi kenyataan. Bahkan, bagi sebagian pengikut demonstrasi, bencana menanti mereka.

Di Cirebon, Jawa Barat, misalnya, tes cepat yang dilakukan Polres Cirebon Kota terhadap 129 pengunjuk rasa, mendapati 25 di antaranya reaktif. “Kami sudah menyerahkan
mereka ke Satgas Covid-19 untuk dilanjutkan dengan tes usap,” kata Kapolres Ajun Komisaris Besar Syamsul Huda.

Para pengunjuk rasa yang diboyong ke kantor polres terdiri dari pelajar, mahasiswa, anggota geng motor, dan warga yang tidak punya pekerjaan. “Yang masih di bawah umur, kami kembalikan ke orangtua mereka,” lanjutnya.

Sama seperti di banyak daerah, demonstrasi di Cirebon juga disetel untuk berlangsung ricuh. Sejumlah pelaku ditangkap.

Polres Malang Kota juga menggiring 129 pengunjuk rasa. Tes cepat dilakukan. Hasilnya 20 orang di antara mereka reaktif.

“Akan ditindak lanjuti dengan tes usap,” kata Kapolres Malang Kota, Kombes Leonardus Simarmata.

Di Malang, unjuk rasa berlangsung sangat anarkistis. Empat mobil dinas Polri dibakar, mobil Satpol PP dan Pemkot Malang juga dirusak.

Masih di Jawa Timur, polda menetapkan 14 pengunjuk rasa sebagai tersangka unjuk rasa anarkistis di Gedung Negara Grahadi, Surabaya. “Sebagian besar pelaku tidak tahu tujuan unjuk rasa,” kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko.

Sudah diatur


Kesamaan skenario unjuk rasa di berbagai daerah membuat Sri Sultan Hamengku Buwono menyimpulkan aksi massa itu sudah didesain alias bukan spontanitas.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta itu mencontohkan kasus di Malioboro.

“Kenapa saya katakan itu by design? Karena peristiwa itu terjadi setelah unjuk rasa yang dilakukan pelajar, mahasiswa, dan buruh sudah selesai. Tapi, ada sekelompok
orang yang tidak mau pergi.

Kami tidak mengenal mereka itu siapa. Sri Sultan meminta aparat menangkap dan memidanakan para pelaku. “Tuntut mereka karena kerusuhan yang terjadi
dilakukan by design, bukan kepentingan buruh.

Saya sudah tahu siapa di belakang kelompok anarkistis ini,” tambahnya.

Di Yogyakarta, polisi menangkap 95 pengunjuk rasa. Dalam pemeriksaan, empat di antaranya ditetapkan sebagai pelaku.

Polrestabes Palembang, Sumatra Selatan, juga harus bekerja keras menangani buntut unjuk rasa. “Kami menangkap 360 orang, kebanyakan masih berusia remaja. Dari jumlah itu, dua orang sudah ditetapkan sebagai tersangka,’ ujar Kapolrestabes Kombes Anom Setyadji.

Kemarin, unjuk rasa masih berlangsung di beberapa daerah, di antaranya Medan, Sumatra Utara, Kupang, Nusa Tenggara Timur, dan Brebes, Jawa Tengah.

Di Medan, pengunjuk rasa sempat melawan saat dibubarkan petugas karena unjuk rasa sudah melewati pukul 18.00 WIB. Tembakan gas air mata sempat dibalas lemparan batu.

Ricuh juga mewarnai demonstrasi di Kantor DPRD Brebes. Tembakan gas air mata juga dibalas lemparan batu. (BN/HS/AT/DW/YP/PO/JI/GL/N-2)

BERITA TERKAIT