10 October 2020, 04:35 WIB

OTG Picu Klaster Baru Bermunculan di Daerah


(Ata/H-3) | Nusantara

PASIEN covid-19 tanpa gejala (OTG) yang mengabaikan penerapan protokol kesehatan menyebabkan lonjakan jumlah penderita yang terpapar covid-19 di sejumlah daerah. Tim Mitigasi PB IDI menyatakan, 132 dokter wafat akibat covid-19 hingga kemarin berasal dari 18 IDI wilayah (provinsi) dan 61 IDI cabang (kota/kabupaten). Sementara itu, selama minggu pertama Oktober, sudah ada 5 dokter yang meninggal akibat covid-19.

Menurut Tim Mitigasi PB IDI, munculnya klaster-klaster baru penularan covid-19 dalam beberapa minggu terakhir disebabkan sejumlah wilayah di Indonesia mulai melepas PSBB dan membuka wilayahnya kembali untuk pendatang yang berarti lebih banyak orang yang menjalani aktivitas di luar rumah.

Ketua Tim Mitigasi PB IDI M Adib Khumaidi mengatakan peristiwa demonstrasi yang terjadi beberapa hari belakangan ini merupakan salah satu penularan yang potensial. "Peristiwa tersebut mempertemukan ribuan, bahkan puluhan ribu orang yang sebagian besar tidak hanya mengabaikan jarak fisik, tetapi juga tidak mengenakan masker," kata Adib dalam keterangan resmi, kemarin.

Adib melanjutkan, berbagai seruan nyanyian ataupun teriakan dari peserta demonstrasi tersebut tentu mengeluarkan droplet dan aerosol yang berpotensi menularkan virus, terutama covid-19. Ditambah, banyaknya kemungkinan peserta demonstrasi yang datang dari kota atau wilayah yang berbeda. Jika terinfeksi, mereka dapat menyebarkan virus saat kembali ke komunitas.

"Bukan tugas kami sebagai tenaga kesehatan untuk menilai mengapa orang-orang tersebut terlibat dalam demonstrasi. Dalam hal ini, kami menjelaskan kekhawatiran kami dari sisi medis dan berdasarkan sains--hal yang membuat sebuah peristiwa terutama demonstrasi berisiko lebih tinggi daripada aktivitas yang lain" bebernya.

Kekhawatiran kami sebagai tenaga kesehatan, kata Adib, yakni akan terjadi lonjakan masif yang akan terlihat dalam waktu 1-2 minggu mendatang. "Dalam kondisi saat ini saja, para tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan sudah kelimpungan menangani jumlah pasien covid-19 yang terus bertambah," ucapnya. (Ata/H-3)

BERITA TERKAIT