10 October 2020, 04:30 WIB

Para Ibu yang Mendadak Jadi Guru


Zuq/M-4 | Weekend

Pandemi merangsek ke segala lini. Masing-masing punya tantangan sendiri. Dari siswa, guru, pekerja, karyawan, ketua RT, penjual gorengan, hingga sepasang kekasih yang terpisah ruang dan waktu.

Pembatasan sosial diwajibkan untuk meminimalkan kemungkinan paparan covid-19. Barangkali itu adalah muasal untuk segalanya sebisa mungkin dilakukan dari rumah, termasuk belajar. Orangtua menjadi andalan untuk menjembatani antara guru dan murid. Ibu harus menjadi sosok guru di mata anak. Dari situlah pernak-pernik cerita bermunculan dalam buku tajuk Guruku Momster, Sekolah Daring saat Pandemi yang Bikin Pening.

Buku ini adalah bingkai dari kisah 10 ibu yang mendampingi buah hatinya belajar dari rumah. Mereka berasal dari berbagai latar belakang dan profesi. Cerita mereka semacam kehangatan yang intim bagi para ibu di seluruh penjuru yang masih berusaha berdamai dengan pandemi dan turunannya.

Dalam salah satu bagian, Talkactive Mom, Ramdania el Hida menceritakan pergulatannya sebagai ibu berlatar profesi jurnalis. Mau tak mau, ia harus menjadi guru kelas 1 SD dan PAUD kelas A untuk dua anaknya. Ia bercerita, pagi hari pukul 07.00 WIB harus setor absen dan anak harus sudah salat Duha. Lalu menyampaikan materi yang sudah ditentukan.

‘Everyday, every morning. Rasanya mau menyerah. Hari ini saya bisa jadi guru matematika, besok jadi guru olahraga, guru tari, dan guru vokal seperti Mbak Bertha. Bah, seumur-umur saya tidak tahu gerakan dasar tari dan harus memberikan contoh kepada anak agar dia mau mengerjakan tugas praktik Seni Budaya dan Prakarya (SBdP)’ (hlm 51).

Apakah tantangannya hanya itu? Tidak. Masih ada yang lebih berasa, yakni saat anak-anak mulai ngambek. Dunia yang semula ber­gerak dalam keteraturan tiba-tiba berguncang hebat. Ramdania menggambarkannya dengan kalimat bernas, rasanya ingin minum air gula segalon setiap habis mendampingi anak-anak belajar di rumah.

Selain cerita Ramdania yang menjadi ibu yang harus superbicara, masih ada 9 cerita lain, seperti Toughtful Mom (Ruisa Khoiriyah), Observer Mom (Dwi Tupani), Strict Mom (Andina Merya­ni), Happy Mom (Fatya Alfarabi), Handy Mom (Kartika Runiasari), Impatient Mom (Dian Ariffahmi), Astute Mom (Vega Aulia), Teleport Mom (Rosdianah Dewi), dan Judicious Mom (Ratna Melisa). Semua cerita menonjolkan satu dari banyak dimensi keibuan.

Pada Astute Mom, Vega Aulia mengetengahkan kisahnya sebagai ibu dari seorang anak. Vega juga sedang menunggu kelahiran anak kedua. Baginya, bekerja dari rumah ternyata tidak membuatnya dan suami bisa lebih santai.

Bekal sebagai pengajar, disebut Rosdianah Dewi, mulanya diharap bisa membantu ketika Ia mendampingi anaknya sekolah di rumah. Ternyata tidak juga. Anaknya bukan tipe pelajar yang bisa duduk dengan tenang dan mengerjakan tugas sampai selesai. Selagi dipusingkan kerjaan sebagai tenaga pendidik yang mesti mencari cara menyiasati kelas daring, ia juga dipusingkan tugas sang anak.

Kala berhadapan dengan banyak kelindan tantangan, Rosdianah merasa tak ada pegangan. Rosdianah menyampaikan pesannya untuk Mas Menteri (Mendikbud Nadiem Makarim) di halaman 132-133. “Doakan saja kami tetap sehat, ya Mas Menteri, supaya tetap mempunyai kekuatan untuk terus berkarya di saat-saat yang sulit seperti sekarang ini, meski tanpa arahan yang bisa dijadikan pegangan yang kuat.” (Zuq/M-4)

BERITA TERKAIT