10 October 2020, 04:04 WIB

Mengembalikan Kejayaan Parijs van Sumatra


PS/Ths/X-10 | Nusantara

KEJAYAAN industri perkebunan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran yang amat penting dari sejarah perkebunan di Kota Medan dan Sumatra Utara.

Pada masa sekitar abad ke-18 dan 19, industri perkebunan dari Kota Medan menjadi penyumbang terbesar pembangunan di Indonesia. Bahkan, secara historis, hasil perkebunan di Kota Medan telah banyak mendukung aktivitas kolonial Belanda.

Namun, kini, tidak banyak lagi hiasan prestasi yang ditunjukkan Kota Medan sebagai kota metropolitan.

Hal itu mengemuka dalam acara Dialektika yang dikemas menjadi peluncuran sekaligus bedah buku berjudul Medan, Pasang Surut Peradaban Kota Perkebunan, kemarin.

Acara daring yang dipandu presenter Metro TV Yohana Margaretha ini memaparkan bagaimana buku yang ditulis Ketua Dewan Redaksi Media Group Usman Kansong di tengah pandemi covid-19.

‘’Ini berkah pandemi covid-19. Penulisnya berhasil melakukan riset dan kontemplasi sehingga memiliki analisis yang dalam,’’ kata Dekan FISIP Universitas Sumatera Utara (USU) Muryanto Amin selaku pembedah buku.

Dalam paparannya, Usman Kansong mengatakan bahwa dirinya memerlukan waktu sekitar tiga bulan untuk menyelesaikan buku ini. Tujuan
penulisan buku ini ialah pendidikan politik dalam rangka memacu para penulis lain, khususnya kalangan sejarawan, untuk menulis buku lain tentang Medan dari berbagai perspektif dan isu.

Di sisi lain, Muryanto Amin menyayangkan banyaknya kemunduran yang dialami Kota Medan saat ini. Menurut dia, Kota Medan cenderung lebih slow pembangunan infrastrukturnya dan pembangunan manusianya jika dibandingkan dengan kota lain seperti Surabaya, Jakarta, Bandung, dan Padang.

Narasumber lainnya, Dirut PTPN Holding Muhammad Abdul Ghani mengapresiasi terbitnya buku ini. Menurutnya, buku Medan, Pasang Surut Peradaban Kota Perkebunan semakin memperkaya sejarah bahwa Medan pada masa lalu adalah sebuah wilayah yang sangat hebat dan potensial dalam mewujudkan kesejahteraan ekonomi masyarakatnya.

‘’Seluruh ekspor hasil perkebunan di Indonesia, separuh lebih berasal dari Medan dan Sumatra Utara,’’ kata Ghani yang juga penulis buku berjudul Jejak Planters di Tanah Deli. (PS/Ths/X-10)

BERITA TERKAIT