10 October 2020, 03:45 WIB

Lady Gaga Memulihkan Trauma


Atalya Puspa | Humaniora

MUSIKUS Lady Gaga, 34, dikenal sangat peduli mengenai tema kesehatan mental. 

Ia pun cukup terbuka mengakui punya masalah dengan kesehatan mentalnya. Dalam perbincangan di CBS Sunday Morning, ia mengatakan bahwa album terbarunya, Chromatica, memperlihatkan pada penggemarnya fakta ketika ia sedang berjuang keras melawan depresi dan berusaha mencintai diri sendiri.

“Musuh terbesar saya ialah Lady Gaga, itulah yang saya pikirkan. Musuh terbesar saya ialah dia,” kata Gaga. 

“Anda tidak bisa pergi ke toko grosir sekarang. Jika Anda pergi makan malam bersama keluarga, seseorang datang ke meja, Anda tidak dapat makan malam bersama keluarga dengan tenang tanpa terkait dengan Anda. Selalu tentang Anda. Sepanjang waktu ini tentang Anda,” tukas pelantun Poker Face tersebut.

Melalui album Chromatica, dia bercerita tentang penyakit mental dan pemulihan traumanya. “Tidak ada satu lagu pun di album itu yang tidak benar,” kata dia. 

Dia menggunakan lagu 911 sebagai contoh. Menurutnya, lirik Pop a 911 ialah ‘referensi untuk pengobatan yang harus saya minum ketika saya dulu panik karena saya Lady Gaga’. Gaga mengaku ketenaran justru membuatnya masuk ke fase hidup yang kelam hingga ia merasa ingin menyerah. 

“Aku benci menjadi terkenal, aku benci menjadi bintang, aku merasa lelah,” tutur pemenang Oscar 2019 untuk Best Original Song melalui lagu Shallow yang dinyanyikan bersama aktor Bradley Cooper.

Ia menambahkan, tidak mudah untuk memperlihatkan kepada orang lain bahwa seseorang memiliki masalah dengan kesehatan mental. “Orang bisa saja menunjukkan luka atau bekas luka karena menyakiti diri sendiri, misalnya. Namun, yang terlihat hanya bekas luka. Saya pikir kesehatan mental itu tetap tidak terlihat.”

Penyanyi yang dijuluki Mother Monster itu menambahkan bahwa keinginan bunuh diri terlintas dalam benaknya setiap hari. “Saya tidak begitu mengerti mengapa saya harus hidup selain bersama keluarga saya,” dia berbagi. 

“Itu merupakan pemikiran dan perasaan yang nyata, mengapa saya harus bertahan?”

Dalam menyadari kondisinya, dia kemudian tinggal di sebuah rumah dengan orangorang yang ‘mengawasi’ selama beberapa tahun untuk ‘memastikan dia aman’.


Gentrifikasi

Gaga mengatakan ia menyadari pemicu utama kondisinya ialah gentrifikasi dan didekati di depan umum. 

“Jika saya di toko bahan makanan dan seseorang mendekati saya dan meletakkan ponsel tepat di wajah saya dan mulai mengambil gambar, saya langsung panik total. Nyeri seluruh tubuh. Saya menguatkan diri karena saya sangat takut,” kata dia. 

“Ini sepertinya saya ialah sebuah objek, saya bukan manusia.” Dengan kondisi yang dialami, Gaga terus membuat musik. “Aku harus melakukannya,” jelas Gaga sambil menunjuk pianonya.

“Ternyata, meskipun saya tidak ingin hidup, saya masih tahu cara menulis lagu.” Setelah Chromatica dirilis, Gaga berkata bahwa dia telah menemukan cara untuk mencintai (dirinya sendiri) lagi. 

“Saya tidak membenci Lady Gaga lagi. Sekarang saya melihat piano ini dan saya berkata, ‘Ya, Tuhan, piano saya, piano saya yang sangat saya cintai. Piano saya, yang memungkinkan saya berbicara, piano saya yang memungkinkan saya membuat puisi. Piano saya, itu milik saya.”

Beberapa waktu lalu, penyanyi bernama asli Stefani Joanne Angelina Germanotta ini merilis film pendek berjudul 911 seperti judul lagu dalam album tersebut. “Film pendek ini sangat pribadi bagi saya, pengalaman saya dengan kesehatan mental dan bagaimana realitas dan mimpi dapat saling berhubungan untuk membentuk pahlawan di dalam diri dan di sekitar kita,” kata Gaga. (H-3)
 

BERITA TERKAIT