10 October 2020, 02:10 WIB

Upaya Akhiri Konflik Nagorno-Karabakh


MI | Internasional

PRESIDEN Rusia Vladimir Putin telah mengundang menteri luar negeri Armenia dan Azerbaijan ke Moskow untuk melakukan pembicaraan damai.

Itu dilakukan karena pertempuran antara Azerbaijan dan Armenia yang sudah berlangsung hampir dua minggu untuk memperebutkan wilayah Nagorno-Karabakh tidak terlihat akan berakhir.

“Menteri luar negeri Azerbaijan dan Armenia diundang ke Moskow,” kata Putin dalam pernyataan yang dirilis Kremlin.

Presiden Rusia, bunyi pernyataan tersebut, mengeluarkan seruan untuk kedua negara agar menghentikan pertempuran di Nagorno-Karabakh atas dasar kemanusiaan. Azerbaijan dan Armenia terlibat dalam pertempuran sengit dalam memperebutkan Nagorno-Karabakh, wilayah Azerbaijan yang di kuasai orang-orang Armenia yang memisahkan diri. Ratusan orang,

termasuk warga sipil telah tewas dalam pertempuran saat ini yang merupakan kondisi terburuk sejak gencatan senjata 1994. Pejabat pertahanan di Azerbaijan dan Armenia mengatakan pertempuran berlanjut hingga pekan ini, dengan kedua belah pihak mengklaim telah menimbulkan kerugian besar dan menuduh pihak lain menembaki daerah sipil. 

Armenia, misalnya menuduh Azerbaijan menembaki katedral bersejarah di Nagorno-Karabakh. Pejabat Ombudsman HAM Armenia, Artak Beglaryan, mengatakan pertempuran baru-baru ini telah membuat sekitar setengah dari 140 ribu penduduk Karabakh mengungsi dan memaksa sekitar 90% perempuan dan anak-anaknya pergi dari rumah mereka.

Kemarin, Azerbaijan mengumumkan mereka menarik duta besarnya untuk Athena menyusul laporan warga Yunani bergabung dengan pasukan Armenia di Karabakh. Pada kesempatan terpisah, Presiden Prancis Emmanuel Macron telah melakukan pembicaraan telepon dengan Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan dan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev terkait dengan konflik.

Pihak Macron menyebut pembicaraan itu sebagai bagian dari langkah yang sudah dikoordinasikan dengan Rusia. Keberlanjutan perundingan damai juga akan dibicarakan dalam beberapa hari ke depan oleh Organisasi Keamanan dan Kerja Sama Eropa (OSCE). Organisasi tersebut di ketuai bersama oleh Prancis, Ru sia, dan Amerika Serikat. (AFP/Nur/X-11)

BERITA TERKAIT