09 October 2020, 20:56 WIB

Buku Tentang Kota Medan, Usman Kansong Harap Menjadi Referensi


Thomas Harming Suwarta | Nusantara

KETUA Dewan Redaksi Harian Umum Media Indonesia Usman Kansong menulis buku berjudul "Medan: Pasang Surut Peradaban Kota Perkebunan." Buku tersebut diluncurkan secara daring hari ini, di Jakarta, Jumat (9/10).

Bagi Usman yang merupakan alumnus Universitas Sumatera Utara (USU) Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik tersebut, buku ini diharapkan menjadi referensi baik ilmiah maupun praksis tentang kota medan yang dulu pernah dijuluki sebagai Paris van Sumatera tersebut.

"Kota Medan itu punya banyak cerita dan kekayaan yang bisa menjadi inspirasi dan tentu tidak bisa dilepaskan dari dunia perkebunannya dan lagipula tidak banyak referensi yang orang bisa dapatkan yang menceritakan secara lengkap tentang kota ini, samahalnya kota-kota lain di Indonesia," ungkap Usman.

Bagi Usman, Medan memiliki keunikan, kaya dalam sejarahnya, nuansa kotanya, manusianya, politiknya, ekonominya, persnya, karya sastranya, serta bahasanya. "Termasuk tentu saja Medan itu adalah gambaran tentang pluralisme sesungguhnya, katakan semacam Indonesia mini dan hampir tidak ada konflik soal agama atau suku yang begitu besar, katakan seperti di Ambon atau Poso," lanjut Usman.

Terkait ini jelas dia Medan mengalami persilangan kultural sehingga tidak ada etnis dominan pada suatu wilayah. "Bagaimana misalnya ada orang Batak yang mayoritas Kristen tetapi ada juga yang beragama Islam. Dengan tidak adanya etnis dominan maka tentu saja sulit terjadi konflik suku," tukasnya.

Buku ini diharapkan Usman akan menjadi referensi baik ilmiah maupun praksis yang bisa dipakai ketika masyarakat ingin mempelajari Kota Medan.

Hadir saat peluncuran adalah juga Dekan FISIP Universitas Sumatera Utara Muryanto Amin. Salah satu catatan yang disampaikan Amin adalah perkembangan Medan sebagai kota Metropolitan yang cenderung lamban dibanding kota-kota lain seperti Surabaya, bahkan lambat dibandingkan perkembangan kota Padang dan Palembang.

"Salah satu indikator misalnya hampir tidak ada prestasi yang diraih kota Medan yang memperlihatkan dia sebagai kota Metropolitan, sehingga itu juga berdampak pada branding kota Medan yang tidak mendukung kesejahteraan masyarakat," ungkap Amin.(OL-4)

BERITA TERKAIT