09 October 2020, 20:15 WIB

Burung Pelanduk Sulawesi Ternyata Mahluk dengan Evolusi Tercepat


Galih Agus Saputra | Weekend

AHLI zoologi dari Trinity College Dublin, Irlandia, baru-baru ini telah menemukan contoh evolusi tercepat pada mahluk hidup. Fenomena itu mereka temukan pada endemik asli Indonesia yakni Burung Pelanduk Sulawesi atau yang juga dikenal sebagai  Sulawesi Babblers. 

Zoolog yang pertama kali mempublikasikan temuannya dalam jurnal Biotropica ini megatakan pelanduk jantan dan betina telah berevolusi untuk mencapai ukuran yang beragam di beberapa pulau-pulau kecil. Waktunya tergolong cepat, dimana perubahan itu turut didasari kemampuan burung untuk mengurangi persaingan satu sama lain, dan usaha untuk mencari atau mengonsumsi sumber daya yang lebih beragam.

Kemampuan itu selanjutnya turut mempengaruhi perubahan dimorfis atau ciri-ciri fisik berdasarkan jenis kelamin sang burung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Burung Pelanduk Sulawesi Jantan tumbuh 15% lebih besar dari betina.

Penulis makalah penelitian, Fionn Ó Marcaigh mengatakan, daerah tropis adalah rumah bagi banyak spesies tumbuhan dan hewan, bahkan melebihi daripada daerah mana pun. Akan tetapi banyak orang kurang tahu kalau mereka kini juga tengah menghadapi kepunahan.

"Hal ini terutama berlaku untuk spesies yang relatif tidak dapat dijelaskan seperti Pelanduk atau burung pemalu yang mencari makan di semak-semak lebat di seluruh pulau di Asia Tenggara," tutur Zoolog asal Trinity College Dublin itu, seperti dilansir Sciencrdaily, Jumat, (9/10) itu.

Burung Pelanduk Sulawesi sendiri merupakan burung pengicau yang memiliki bulu coklat kusam. Tidak seperti burung pegar atau burung merak, para ilmuwan sebelumnya mengira bahwa burung yang satu ini tidak memiliki dimorfisme seksual. 

"Penemuan kami membuktikan ini salah dan memberikan pengingat yang tepat bahwa saat ini masih banyak yang harus kita lakukan. Peelajarilah spesies tropis jika kita ingin memahami bagaimana mereka berevolusi di semua pulau yang menakjubkan dan beragam di dunia. Kita tidak bisa melindungi mereka jika kita tidak mengerti mereka,"imbuh Marcaigh. (M-1)

BERITA TERKAIT