09 October 2020, 15:09 WIB

Perkebunan, Benang Merah dari Ragam Hal di Kota Medan


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

BERAGAM hal termuat dalam buku berjudul Medan, Pasang Surut Peradaban Kota Perkebunan. Mulai dari sejarah berdirinya Kota Medan, asal muasal Kota Medan dari sebuah Kampung bernama Kampung Putri. Kemudian termuat juga bahasan tentang manusia.

Penulis yang juga merupakan Ketua Dewan Redaksi Media Group Usman Kansong menyampaikan hal paling menarik pada buku ini ketika bercerita tentang manusia. Apalagi Medan sebagai kota multietnik atau mininya Indonesia memiliki berbagai etnik, agama, suku, dan kebudayaan.

Terkait suku di Medan, terdiri dari tiga kelompok, pertama terdapat suku asli ada Melayu, Batak, Mandailing, Toba, Nias. Kemudian, suku pendatang seperti Jawa dan Aceh, bahkan penduduk terbesar di Kota Medan adalah orang Jawa. Ketiga, suku mancanegara yakni Arab, Tionghoa dan Keling atau Tamil. Suku-suku mancanegara ini ditulis dalam bab tersendiri.

Selanjutnya, buku ini juga memuat pembahasan tentang preman. Bagian berikutnya tentang politik ekonomi. Bahkan kuatnya identitas suku akan mempengaruhi politiknya. Menariknya, Medan itu disebut kota Dolar karena banyak memiliki perusahaan asing.

Bagian berikutnya tentang literasi, tentang pers. Bagaimana pers berlaku kritis terhadap pengaruh sanksi moral atau semacam aturan di zaman perkebunan.

"Saya sampaikan dari berbagai tema tadi sejarah, perkebunan, manusia, politik ekonomi dan literasi ada benang merah di situ, apa? perkebunan sebagai benang merahnya, karena ekonomi perkebunan muncul. Kemudian juga politik identitas, muncul juga warisan," kata Usman Kansong dalam siaran Dialektika dengan tajuk Peluncuran dan bedah buku Medan, Pasang Surut Peradaban Kota Perkebunan, Jumat (9/10).

Baca juga: Medan Parisj van Sumatra

Usman menyampaikan jika penulisan buku ini dimulai sejak 2015 berbekal dari pengalamannya selama tinggal di Kota Medan sejak 1990-1995. Namun, penulisan sempat terhenti hingga mulai diseriusi kembali selama masa pandemi covid-19.

"Justru tadi, di tengah pandemi ketika kita work from home yang kita bekerja di rumah, maka saya pikir ini kesempatan untuk menyelesaikan buku. Jadi walaupun tersendat-sendat tetapi saya tetap mengumpulkan materi dengan wawancara beberapa narasumber dan kemudian saya tuliskan kurang lebih selama tiga bulan buku ini," jelasnya.

Usman mengaku sebagai orang yang sering bertandang ke toko buku, tidak menemukan buku-buku yang representatif tentang kota Medan. Meskipun ada sebuah buku yang ditulis sejarawan Tengku Luckman Sinar. Namun, buku itu diterbitkan secara mandiri dan masih berbentuk diktat kuliah.

"Buku karya Tengku Luckman menjadi salah satu referensi buku saya, saya sebut tidak representatif ya karena belum dipasarkan secara luas. Belum diketahui secara luas oleh masyarakat, kedua memang diterbitkannya masih mandiri artinya tidak ber-isbn," tuturnya.

Dalam perbincangan bedah buku itu juga hadir dua narasumber lain yakni Dekan FISIP Universitas Sumatra Utara Muryanto Amin dan Dirut PTPN Holding sekaligus penulis buku Jejak Planters di Tanah Deli Mohammad Abdul Gani.

Selain perbincangan kali ini, simak acara selanjutnya yang sedang live streaming di sosial media Media Indonesia:

1. Youtube Media Indonesia,

2. Facebook Media Indonesia,

3. IG Media Indonesia,

4. Website Media Indonesia.

(OL-5)

BERITA TERKAIT