09 October 2020, 04:05 WIB

Toba masih Terbelit Keramba


YP/WJ/SL/N-2 | Nusantara

KERAMBA jaring apung jadi masalah di Danau Toba. Keberadaannya sudah membuat daya dukung dan kualitas air menurun.

“Pengoperasian keramba jaring apung di Danau Toba sudah melanggar sejumlah aturan yang ditetapkan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat. Aktivitas budi daya perikanan juga telah berkembang ke luar dari zona yang telah ditentukan,” papar Wakil Ketua Dewan Riset Daerah Sumatra Utara Tohar Suhartono di Medan, kemarin.

Pemerintah bukan melarang warga berusaha dengan keramba jaring apung. Namun, demi pelestarian danau terbesar di Indonesia itu, Gubernur Sumatra Utara pada 2017 lalu telah menetapkan batas kapasitas produksi ikan sebanyak 10 ribu ton per tahun.

Nyatanya, saat ini sudah lebih dari 10 ribu keramba jaring apung betebaran di Danau Toba. Mereka diperkirakan sudah menghasilkan lebih dari 65 ribu ton ikan budi daya per tahun.

“Budi daya perikanan dengan peng­operasian keramba jaring apung telah mengganggu fungsi dan keindahan Danau Toba sebagai daerah pariwisata. Warga lokal juga dirugikan karena sumber air tercemar, padahal mereka masih mengonsumsi langsung air dari danau,” sambung Tohar.

Pencemaran di Danau Toba sebenarnya bukan masalah baru karena sudah terjadi sejak belasan tahun lalu. Namun, penyelesaian yang komprehensif tidak juga berjalan hingga saat ini.

Sementara itu, di kawasan hutan, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH)  Surakarta, Jawa Tengah, berupaya menjaga keselarasan lingkungan dan warga pinggiran hutan. Prog­ram agroforestry pun digelar dengan melibatkan warga.

“Warga terlibat dalam kemitraan mengelola agroforestry dengan pola bagi hasil tanaman semusim. Kami menyilakan warga menanam padi, jagung, kedelai, tebu, dan kopi di kawasan hutan,” kata Administratur KPH Surakarta, Sugi Purwanta.

Di Jambi, Hari Lingkungan Hidup diperingati dengan melepas 2.020 bibit ikan ke Sungai Batanghari dari kawasan ruang terbuka hijau Angso Duo, Kota Jambi. Peringatan dipimpin Pjs Gubernur Ardy Daud.

Dukungan juga datang dari 70 perusahaan yang secara serentak menanam 2.020 batang bibit pohon di kawasan ini. “Kerja bersama seperti ini harus terus kita kawal bersama demi pelestarian alam,” kata Ardy. (YP/WJ/SL/N-2)

BERITA TERKAIT