09 October 2020, 08:00 WIB

OJK, Pemprov Jabar dan ‘Sekoper Cinta’


mediaindonesia.com | Ekonomi

OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melaksanakan program edukasi keuangan untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan guna mencegah masyarakat, terutama kaum perempuan, terjerat atau meminjam kepada rentenir melalui apa yang disebut sebagai ‘Sekoper Cinta’.

Sekoper Cinta? Iya, itulah singkat­an untuk Sekolah Perempuan Capai Impian dan Cita-Cita. Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, menjelaskan bahwa Sekoper Cinta merupakan wadah perempuan bertukar pengetahuan dan pengalaman serta diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup keluarganya, dapat mewujudkan kemandirian ekonomi tanpa terjerat oleh pinjaman rentenir yang banyak menyasar ke wilayah perdesaan.

“Harapan kita adalah Jawa Barat mau bebas dari rentenir. Karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, OJK, BI (Bank Indonesia), dan industri keuangan menyediakan kemudahan untuk mengakses bantuan atau pinjaman tapi tentu tidak mencekik seperti rentenir. 

Ada program Bank Wakaf Mikro dari OJK, ada Kredit Mesra dari Pemprov Jawa Barat, ada KUR (kredit usaha rakyat) yang murah bunganya, ini semua adalah instrumen-instrumen yang dapat digunakan,” terang pria yang akrab disapa Emil itu.

Menurut dia, perbankan dan lembaga keuangan formal lainnya juga harus bermutasi, harus beradaptasi jika ingin menyalurkan pembiayaan, khususnya kepada keluarga menengah ke bawah yang berada di kampung-kampung.

“Ibu-ibu di sana yang telah diedukasi melalui ‘Sekoper Cinta’, nantinya akan dapat memahami, pembiayaan mana yang baik untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga,’’ lanjut Emil.

Sejak diluncurkan pada Oktober 2018, program ‘Sekoper Cinta’ telah menelurkan 2.700 lulusan yang berasal dari 100 desa di 27 kabupaten/kota di Jawa Barat.

Pada Oktober ini, saat dicanangkan sebagai Bulan Inklusi Keuangan, Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Jawa Barat yang merupakan bentuk sinergi antara OJK, Pemprov Jawa Barat, dan industri jasa keuangan berkolaborasi dalam program ‘Sekoper Cinta’ untuk menciptakan agen literasi keuangan bagi ibu-ibu rumah tangga dengan berbagai kegiatan edukasi dengan tema ‘Menciptakan Agen Inklusi Keuangan bagi Kelompok Perempuan melalui Program Sekoper Cinta dalam rangka Melawan Rentenir’.

Adapun sasaran kegiatan program kepada perempuan dari kelompok wanita binaan PT PNM (Persero), ibu Pemberdayaan Kese­jahteraan Keluarga (PKK), serta petugas penyuluh perempuan.

Kepala OJK Regional 2 Jawa Barat, Triana Gunawan, mengatakan bahwa selain ‘Sekoper Cinta’ OJK bersama Pemprov melalui TPAKD Jawa Barat juga telah mengimplementasikan berbagai program yang diharapkan dapat berkontribusi dalam pemulihan ekonomi di wilayahnya.

“Program unggulan yang telah diimplementasikan, telah dirintis dari tahun-tahun sebelumnya dan akan kita kembangkan terus adalah business matching, dimana terdapat perusahaan sebagai offtaker yang menjamin pembelian produk yang diproduksi secara massal oleh masyarakat perdesaan dan difasilitasi pembiayaannya oleh perbankan di Jawa Barat, terutama di bidang ketahanan pangan,” jelas Triana.

Menurut dia, hal ini akan terus diduplikasi guna peningkatan ekonomi Jawa Barat. Berbagai inisiatif lainnya juga akan dijalankan untuk mendukung program Pemprov yaitu Desa Juara.

Selain itu, OJK juga mengoptimalisasi peran TPAKD melalui optimalisasi BUMDesa dengan program, antara lain melalui pembukaan agen laku pandai, penggunaan transaksi nontunai Dana Desa melalui internet banking corporate, kepemilikan rekening tabungan sebanyak 383 rekening dengan nominal sebesar Rp45,1 juta, kepemilikan asuransi jiwa mikro bagi aparatur desa sebanyak 42 polis dan optimalisasi gudang dan pembiayaan sistem resi gudang kepada 12 petani/12 resi dengan nominal Rp852 juta serta 1 kelompok tani sebesar Rp170 juta.

Dari sisi industri keuangan, per 20 September 2020 perbankan di Jawa Barat telah melakukan restrukturisasi kredit senilai Rp103,7 triliun dari 1,68 juta debitur. Sementara, realisasi restrukturisasi perusahaan pembiayaan mencapai Rp33,16 triliun dari 1,14 juta kontrak pembiayaan. Sebanyak 7,5 ribu debitur diberikan subsidi bunga sebesar Rp21,16 miliar. (S2-25)

BERITA TERKAIT