08 October 2020, 23:13 WIB

Warga Lembata Rayakan Otonomi dengan Peluncuran Buku


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

WARGA Lembata diaspora se-dunia meluncurkan buku berjudul "Membangun Tanpa Sekat" sebagai wujud kecintaan bersama Pemerintah Kabupaten Lembata dan masyarakat di tanah kelahiran, lewotana, leu awuq dalam merayakan dan memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-21 Otonomi Lembata pada Senin (12/10) mendatang.

Buku itu memuat koleksi 26 tulisan hasil refleksi kritis terkait pelbagai isu dan aspek pembangunan di Lembata selama 20 tahun terakhir. Terdapat sejumlah tema, diantaranya sejarah, kepemimpinan, prasarana dan sarana, pendidikan, kesehatan, pariwisata, kebudayaan, spiritualitas, filsafat dan epistemologi lokal.

Baca juga: Jalankan Hobi untuk Hilangkan Stres di Masa Pandemi

Salah seorang penggagas buku ini Ansel Deri mengatakan para penulisnya yakni putra-putri Lembata yang berada di seluruh wilayah NTT dan manca negara. 

"Di mana mereka berasal dari beragam latar belakang pendidikan, pengalaman, dan profesi, seperti anggota DPR, rohaniwan, akademisi, pengacara, ASN, politisi, aktivis, guru, pekerja sosial, dan wartawan. Semua tulisan disajikan dengan bahasa yang lugas dan ringan sehingga mudah dibaca," kata Ansel dalam keterangan tertulis, Kamis (8/10).

Ansel yang pernah menjadi tenaga ahli Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat dan Irjen Pol (Purn) Drs Y. Jacki Uly MH di DPR RI, menambahkan, buku tersebut diberi sambutan sebagai pengantar oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Johnny G. Plate, mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pemilihan NTT 1 yang meliputi juga Lembata. 

"Prolog ditulis jurnalis senior asal Waibalun, Flores Timur, Stephie Kleden-Beetz dan epilognya ditulis Pastor Dr. Otto Gusti Madung SVD, Pimpinan Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Flores," jelasnya.

Seorang penggagas lainnya, Justin L Wejak yang juga dosen Kajian Indonesia di The University of Melbourne, Victoria, Australia mengaku ide dan gagasan menerbitkan buku tersebut lahir dari diskusi lepas beberapa orang dalam WA Group Ata Lembata pada September 2019. 

"Group itu lebih sekadar moting, tempat ngobrol ala kampung di jagat maya dan beranggotakan sejumlah warga asal Lembata yang tinggal di kampung halaman maupun di luar," terangnya.

Selain merupakan hasil refleksi kritis para penulis, buku itu hadir sebagai ajakan bagi para pembaca untuk membuat refleksi tentang Lembata di masa dulu, kini dan seperti apa Lembata nanti di masa depan. 

"Ini penting agar julukan tak enak saat ini sebagai kabupaten tertinggal atau meminjam judul buku Pastor Steph Tupeng Witin SVD, negeri kecil salah urus, bukan label tetap sepanjang masa, kata Justin, dosen kelahiran Baolangu, Kecamatan Nubatukan," tegasya.

Justin menambahkan, pilihan judul buku bertolak dari pemikiran bahwa Lembata adalah kabupaten dengan potensi kekayaan sumber daya manusia dan sumber daya alam melimpah yang mesti diberdayakan dan dikembangkan untuk kemajuan masyarakat dan daerah.

"Para pemimpin setiap berganti rezim mesti membangun Lembata secara holistik dan integratif berpijak pada potensi daerah tanpa terjebak dalam pragmatisme politik pembangunan," lanjutnya.

Menurutnya, semua stakeholders lokal perlu disatukan dalam satu visi yang sama demi memajukan Lembata tanpa terjerumus dalam sekat-sekat primordialisme geopolitik.

"Buku ini hadir sebagai kado kecil bagi pemerintah dan rakyat Lembata selama 20 tahun perjalanan Lembata menjadi daerah otonom, pada 12 Oktober 2020, memasuki usia ke-21. Lembata resmi menjadi kabupaten otonom terlepas dari kabupaten induknya Flores Timur pada 12 Oktober 1999," ungkap Justin yang juga kolumnis harian The Jakarta Post, Ucanews, dan Canberra Times.

Dia berharap melalui buku ini putra-putri Lembata baik yang tinggal di kampung maupun di luar tetap setia mencintai Lembata dengan caranya masing-masing sekecil apapun.

Sedangkan Ansel, co-editor sekaligus admin grup Ata Lembata, menambahkan, buku Membangun Tanpa Sekat terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama berisi sejumlah tulisan antara lain, Lembata dan Kepemimpinan Melayani, Memanen Buah Otonom, Dua Puluh Tahun Otonomi Lembata, Wajah Lembata yang Perlu Dipoles, Pembelajaran Berbasis Motivasi, Guru Terima Kasih, Jokowi, Guru dan Lembata, dan Berguru Kearifan Tempo Doeloe.

Bagian kedua buku berisi artikel-artikel antara lain Kekuatan Budaya Lembata, Spiritualitas Ata Lembata, Pariwisata dan Kearifan Lokal, Selamat Datang Desa Budaya Leuwayang, Filosofi Tenun Tradisional, Lamalera dalam Konstruksi Konservasi, Politik yang Jauh dari Rakyat, dan Korupsi Awololong.

Sedangkan bagian ketiga meliputi delapan artikel yaitu Ketakutan Momok Pembangunan, Menelisik Tambang Emas di Lembata, Mengabdi Rakyat, Nasionalisme: Sebuah Pembaharuan Etis, Lembata yang Remaja, Balita yang Terancam ISPA dan Bahaya Rokok, Mengapa Orang Lembata Merantau, dan Sastra sebagai Sebuah Refleksi Kehidupan Manusia.

"Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Ikan Paus Jakarta, ia hadir sebagai bentuk mini mencintai Lembata, tanah leluhur. Sekaligus bentuk tanggungjawab kepada para pejuang dan perintis sejarah perjuangan Lembata menjadi kabupaten otonom," paparnya.

Baca juga: BMKG Peringatkan Aceh, Bengkulu dan Sumsel Siaga Banjir

Dia menegaskan, setelah perjuangan mencapai garis finish mengantar Lembata menjadi daerah otonom sejak 21 tahun lalu, kini saatnya semua elemen masyarakat berperan aktif dengan caranya masing-masing membangun Lembata tanpa sekat-sekat primordialisme kepentingan geopolitik. 

"Buku ini bisa menjadi bahan bacaan masyarakat sekaligus mendukung gerakan literasi yang dicanangkan pemerintah," pungkas Ansel Deri. (RO/OL-6)

BERITA TERKAIT