08 October 2020, 23:04 WIB

Jalankan Hobi untuk Hilangkan Stres di Masa Pandemi


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

SETIAP orang pasti pernah merasakan stres. Bahkan tingkatan stres di masa pandemi Covid-19 terjadi berkepanjangan sehingga merusak suasana hati dan parahnya memicu berbagai masalah lainnya.

Begitu juga keterbatasan aktivitas, keraguan untuk bergerak hingga paparan angka-angka terkait covid-19 memberikan efek psikologis yang cukup besar. Belum lagi jika pandemi juga menyeret sisi ekonomi. Efek psikologis bisa berdampak pada kesehatan mental, tak hanya orang dewasa, begitu pun dengan anak-anak.

Baca juga: BMKG Peringatkan Aceh, Bengkulu dan Sumsel Siaga Banjir

Oleh karena itu, perlu diketahui cara menyikapi dan menghadapi stres dan tekanan. Salah satu caranya dengan melakukan berbagai hal yang menjadi hobi kita.

Ibu Pekerja dan Pembelajar, Dwi Tupani, menceritakan pengalamannya ketika menghadapi stres di masa pandemi Covid-19. Beruntung, dia sempat dihubungi teman lama dan diajak menulis buku yang memang sejalan dengan hobinya yakni menulis.

"Sekarang hanya pada tingkatan stres, ngga sampai depresi atau yang lainnya, ngatasinya ketika saya stres ada teman lama ngajakin bikin buku soal pembelajaran jarak jauh. Ketika itu saya punya sesuatu yang harus dikerjakan, bisa menyalurkan perasaan ketika itulah saya ikutan proyek bersama ibu-ibu yang anaknya sekolah daring, lebih ke curhat. Ini cukup membantu," kata Tupani dalam program Nunggu Sunset bertajuk Merawat Emosi di Masa Pandemi, Kamis (8/10).

Dia menjelaskan, saat ini banyak juga masyarakat yang mengelola stres dengan lebih memaksimalkan hobinya, seperti hobi memasak, berkebun dan lainnya.

"Kan tidak bisa jalan-jalan seperti dulu, jadi harus ada sesuatu atau punya target bikin sesuatu supaya lebih semangat," sebutnya.

Ibu dua anak ini juga bercerita bahwa suami dan anak-anaknya juga merasakan stres akibat rutinitas di rumah selama pandemi. Bahkan, perlu saling memahami dan memberikan waktu sendiri untuk bisa menghilangkan stres ketika tiba-tiba muncul.

"Biasa memang ambil jarak ya, saya pindah ke ruangan lain, kaya diam dulu. Itu memang terjadi ya, naik turun emosinya. Kadang kalau lagi sadar, oh mereka juga stres menghadapi saya," paparnya.

Seiring waktu pandemi yang terus berjalan. Dia bersama suaminya bisa saling mengerti, ketika salah satunya sedang dalam kondisi emosi yang tidak stabil maka suaminya akan mengambil alih peran untuk lebih menjaga dan berinteraksi dengan anak-anak.

"Paling lama bisa sejam ya, tapi setidaknya jangan ganggu dulu, saya sendiri dan papanya sama anak-anak atau sebaliknya," lanjutnya.

Baca juga: Banjir Susulan Terjang Bengkulu, 225 Jiwa Mengungsi

Wanita yang berprofesi sebagai jurnalis ini juga belajar bahwa emosi yang diluapkan secara berlebihan bisa menimbulkan masalah baru, seperti membanting pintu ketika sedang marah yang justru akan mudah ditiru oleh anak-anak.

"Pas lagi kesel banting pintu, jadi saya lihat anak saya yang kecil ikut banting pintu. Oh, dia niruin saya nih. Jadi saya refleksi, akhirnya saya sekarang tidak lagi melakukan hal itu, agar tidak ditiru oleh anak," pungkasnya.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Media Indonesia (@mediaindonesia) on

(OL-6)

BERITA TERKAIT