09 October 2020, 00:10 WIB

Setengah Penduduk Karabakh Mengungsi akibat Bentrokan


Nur Aivanni | Internasional

BENTROKAN antara pasukan Armenia dan Azerbaijan telah membuat setengah penduduk di wilayah Nagorno-Karabakh memisahkan diri mengungsi.

“Menurut perkiraan awal kami, sekitar 50% penduduk Karabakh dan 90% perempuan dan anak-anak, atau sekitar 70 ribu-75 ribu orang telah mengungsi,” kata pejabat Ombudsman Karabakh, Artak Beglaryan, kepada AFP.

Azerbaijan menuduh pasukan Armenia menembaki sasaran sipil di daerah perkotaan, termasuk kota terbesar kedua di Azerbaijan, Ganja. Puluhan warga sipil telah dipastikan tewas dalam pertempuran itu dan pihak Armenia telah mengakui ada lebih dari 300 kematian di kalangan militernya. 

Sementara itu, Azerbaijan belum mengakui adanya korban jiwa di antara pasukannya. Jaksa Azerbaijan mengatakan 427 tempat tinggal yang dihuni sekitar 1.200 orang telah hancur.

Untuk diketahui, Nagorno-Karabakh memisahkan diri dari Azerbaijan dalam perang 1990-an yang merenggut nyawa sekitar 30 ribu orang. Separatis Armenia pun mendeklarasikan kemerdekaannya.

Sebanyak 140 ribu penduduk NagornoKarabakh sekarang hampir hanya orang Armenia setelah sisa orang Azerbaijan pergi dalam perang 1990-an. Namun, komunitas internasional menganggap wilayah tersebut sebagai bagian dari Azerbaijan dan tidak ada negara, termasuk Armenia sendiri yang mengakui kemerdekaannya.

Ketika setengah penduduk di wilayah Nagorno-Karabakh mengungsi, mediator internasional akan mengadakan pertemuan pertama mereka di Jenewa. Menteri Luar Negeri Azerbaijan Jeyhun Bayramov akan mengunjungi Jenewa pada Kamis dan bertemu dengan para pemimpin OSCE Minsk Group yang diketuai bersama oleh para diplomat dari Prancis, Rusia, dan Amerika Serikat.

Sejauh ini Armenia dan Azerbaijan mengabaikan seruan gencatan senjata yang disuara kan ketua bersama OSCE Minsk Group. Sejak pertempuran di Nagorno-Karabakh pecah pada 27 September lalu, lebih dari 360 orang telah dilaporkan tewas. Mereka termasuk 320 personel militer, 19 warga sipil di Nagorno-Karabakh, dan 28 warga sipil Azerbaijan.


Tragedi besar

Presiden Rusia Vladimir Putin mendesak diakhirinya ‘tragedi besar’ ketika serangan baru menghantam kota utama Karabakh, Stepanakert dan Armenia mengatakan pertempuran itu berkecamuk di sepanjang garis depan.

Bahkan, jika konfl ik berkepanjangan atas wilayah separatis etnik Armenia tidak dapat diselesaikan, kata Putin, gencatan senjata harus disepakati secepat mungkin. Rusia pun mengumumkan menteri pertahanannya, Sergei Shoigu, telah mengadakan pembicaraan baik dengan Armenia maupun Azerbaijan pada Rabu malam, tanpa memberi kan rincian.

“(Pertempuran) ini ialah tragedi. Kami sangat khawatir,” kata Putin dalam pidatonya yang disiarkan stasiun televisi. “Kami berharap konflik ini dapat segera berakhir,” ujar dia menambahkan. (AFP/I-1)

BERITA TERKAIT