08 October 2020, 22:50 WIB

BMKG Peringatkan Aceh, Bengkulu dan Sumsel Siaga Banjir


Zubaedah Hanum | Humaniora

BADAN Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperingatkan sejumlah daerah untuk mewaspadai intensitas curah hujan tinggi pada Jumat (9/10) hingga Sabtu (10/10). Tiga daerah yang berstatus siaga di wilayah Indonesia Barat adalah Aceh, Bengkulu dan Sumatra Selatan.

Informasi prakiraan cuaca berbasis dampak hujan lebat itu dirilis BMKG dalam laman resminya pada Kamis, 8 Oktober 2020, berlaku 9 Oktober hingga 10 Oktober 2020. Status siaga ditunjukkan dengan warna oranye pada tiga provinsi itu, berdasarkan data dan analisis cuaca BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Dari ketiga wilayah itu, saat ini Bengkulu masih berjibaku mengatasi banjir susulan yang terjadi Kamis (8/10) karena tingginya curah hujan. Sebanyak 225 jiwa mengungsi setelah banjir menerjang 10 desa di Kabupaten Seluma. Stasiun Meteorologi Fatmawati Soekarno mencatat curah hujan di Bengkulu sebesar 110 mm masuk dalam kategori sangat lebat, sepanjang Rabu (7/10) hingga Kamis (8/10).

Jika Aceh, Bengkulu dan Sumsel berstatus siaga banjir, BMKG menempatkan sejumlah wilayah lain di wilayah Indonesia Barat dalam status waspada, yang ditunjukkan dengan warna kuning. Mereka terdiri dari Sumatra Utara, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

Untuk diketahui, prakiraan cuaca berbasis dampak atau Impact-Based Forecast (IBF) merupakan informasi prakiraan cuaca yang sudah memperhitungkan potensi dampak yang akan terjadi akibat dari cuaca. Dalam sistem IBF juga disajikan rekomendasi respon atau langkah yang harus dilakukan oleh stakeholder/user atau masyarakat terkait dampak dari dinamika cuaca tersebut.

Adapun, komponen penting dalam sistem IBF adalah risk (risiko), yang merupakan irisan antara hazard (bahaya), exposure (keterpaparan), dan vulnerability (kerentanan). Besarnya risiko sangat bergantung pada besarnya hubungan ketiga komponen tersebut. Semakin erat hubungan hazard, exposure, dan vulnerability, risk akan semakin besar, dan sebaliknya.

Dalam sistem IBF, risiko dibuat dalam bentuk matriks (risk matrix) untuk menentukan warning level. Berdasarkan matriks ini, warning level dibuat dengan mempertimbangkan besar kemungkinan (likelihood) dan dampak (impact). (H-2)

 

BERITA TERKAIT