08 October 2020, 21:20 WIB

Putra Mahkota Baru Kuwait Bersumpah Jaga Demokrasi


mediaindonesia.com | Internasional

PUTRA Mahkota Kuwait yang baru, Sheikh Meshal al-Ahmad al-Sabah, mengambil sumpah jabatan di parlemen pada Kamis (8/10). Ia menjanjikan komitmen negara Teluk Arab itu untuk demokrasi dan perdamaian serta menyerukan Kuwait untuk menghindari perpecahan.

Majelis dengan suara bulat mendukung Sheikh Meshal dalam suksesi mulus yang mempertahankan kekuasaan dengan kuat dalam jajaran tertua keluarga yang berkuasa setelah kematian Emir Sheikh Sabah al-Ahmad pekan lalu.

Sheikh Meshal, dalam sambutannya yang disiarkan televisi, mengatakan Kuwait akan menjunjung tinggi komitmen regional dan internasional serta jalan pendekatan pada perdamaian dan demokratis.

Dia berjanji untuk mengibarkan panji partisipasi populer dan mempromosikan semangat toleransi yang menghindari perpecahan.

Penguasa baru Emir Sheikh Nawaf al-Ahmad, 83, mengambil alih kekuasaan Rabu (7/10) saat negara anggota OPEC yang bersekutu dengan AS itu menghadapi krisis likuiditas. Krisis disebabkan harga minyak yang rendah serta pandemi covid-19 di tengah ketegangan yang berkelanjutan antara negara-negara tetangganya yang lebih besar, Arab Saudi dan Iran.

Para diplomat dan analis mengatakan bahwa karena usia dan gayanya yang sederhana, Emir Sheikh Nawaf mungkin mendelegasikan sebagian besar tanggung jawab kepada Sheikh Meshal. Ia seorang tokoh kuat yang telah menjadi wakil kepala Garda Nasional sejak 2004 dan sebelum itu memimpin Keamanan Negara selama 13 tahun.

Penobatan Sheikh Meshal berbeda dengan keadaan di beberapa negara Teluk lain, terutama Arab Saudi. Di negara-negara itu, keluarga yang berkuasa mulai memberikan jabatan-jabatan utama kepada kalangan pangeran yang lebih muda.

Sheikh Nawaf dan Sheikh Meshal, keduanya merupakan saudara dari almarhum penguasa. Mereka diharapkan untuk fokus pada masalah domestik saat Kuwait mempersiapkan pemilihan parlemen tahun ini dan pemerintah mencoba untuk menopang keuangan negara itu.

Bentrokan sering terjadi antara kabinet yang dipilih sendiri. Jabatan-jabatan paling seniornya diisi oleh anggota keluarga. Majelis telah menyebabkan perombakan pemerintah berturut-turut dan pembubaran parlemen sehingga menghambat investasi dan reformasi ekonomi.

Para pemimpin baru diharapkan menegakkan kebijakan perminyakan dan kebijakan luar negeri yang dibentuk oleh Sheikh Sabah. Ia berjuang untuk mengeratkan persatuan di wilayah yang terpolarisasi dan hubungan yang seimbang dengan Arab Saudi, Iran, dan bekas penjajahnya, Irak. (Ant/OL-14)

BERITA TERKAIT